Minggu, 13 Oktober 2013

FESTIVAL LASEM



   

    Festival Lasem merupakan sebuah kegiatan Seni dan Budaya yang diadakan oleh masyarakat Lasem. Kegiatan ini menjadi sebuah respon masyarakat yang bertujuan demi menyemarakkan dan turut serta nyengkuyung atau meramaikan tradisi tahunan masyarakat muslim yang ada di daerah Lasem yang telah berlangsung selama berabad-abad yaitu peringatan Penjamasan Bende Becak Sunan Bonang, peringatan Haul Mbah Srimpet / Pangeran Tejakusuma I (Adipati Lasem sekaligus pendiri Masjid Jami’ Lasem) dan Haul Mbah Sambu (Tokoh Penyebar Islam awal di Lasem). Melalui Basic Kesejarahan, Kesenian (tradisi dan modern) dan Budaya juga mengangkat nilai-nilai Pluralitas masyarakat Lasem yang merupakan warisan nilai Para Pendahulu Lasem menjadi pondasi awal kegiatan Festival Lasem ini.

    Kegiatan ini telah melibatkan sebagian besar masyarakat Lasem termasuk para pecinta sejarah, para seniman, para pengrajin batik, masyakarat muslim dan komunitas tionghoa dan juga pecinta seni dan budaya yang ada di daerah Lasem untuk turut serta berpartisipasi dan nyengkuyung even budaya ini. Atas dasar semangat yang sama dan tujuan yang sama, yakni mengangkat potensi Kesejarahan, Seni dan Budaya yang ada di daerah Lasem, mengingat pada zaman dahulunya Lasem merupakan kota yang besar selama berabad-abad yang mana peninggalan-peninggalan Para Pendahulu berupa situs-situs kota Tua, peninggalan benda-benda bersejarah, riwayat / sejarah kebesaran kota Lasem juga peninggalan berupa Nilai-Nilai luhur Para Pendahulu masih tetap ada, tetap terawat, terjaga dan tak tergeser arus kemajuan zaman sekarang ini. Selain juga sebagai langkah awal memperkenalkan kembali kepada masyarakat Lasem khususnya kepada generasi muda sehingga dapat menumbuhkan rasa kepedulian dan rasa memiliki terhadap apa-apa yang telah ada di kota Lasem ini.

    Sebagai sebuah even Kebudayaan yang pertama kali ini melibatkan sebagian besar masyarakat Lasem dan juga baru pertama kali ini diadakan di daerah Lasem, kegiatan ini sepenuhnya dilaksanakan dengan usaha gotong royong atau Swadaya masyarakat Lasem sendiri dan tidak mendapatkan bantuan material berupa sponsorhip selain daripada individu - individu atau kelompok usaha yang ada di daerah Lasem itu sendiri, dan diharapkan even ini nantinya dapat menjadi Even Budaya Tahunan yang menjadi sebuah kegiatan yang memberikan edukasi / pendidikan, hiburan, dan yang terpenting menjadi sebuah kegiatan yang mengangkat potensi-potensi lokal dan wisata melalui sejarah, seni, budaya dan peninggalan-peninggalan di daerah Lasem sehingga nama kota kecil Lasem ini dapat dikenal dikancah Nasional bahkan Internasional, memajukan sektor wisata dan dapat menggerakkan roda perekonomian masyarakat Lasem pada umumnya.


Kegiatan – Kegiatan Festival Lasem



1. Napak Tilas Pejuang Perang Lasem.
    Maksud daripada kegiatan ini adalah Napak Tilas sekaligus memperkenalkan Sejarah dan Pejuang-Pejuang Perang Lasem kepada masyarakat Lasem, khususnya kepada generasi muda. Dengan tujuan membangkitkan rasa Patriotisme dan kecintaan pada sejarah dan kearifan lokal yang ada di Lasem.
Diikuti khusus Pelajar dari SD, SMP dan SMA / SMK yang sederajat di wilayah Kecamatan Lasem. Target 100 Peserta.
Kegiatan berupa Napak Tilas Sejarah Perang Lasem / Nyekar Makam Pahlawan Lasem.
Route dan Pos Kegiatan :
Makam Tan Sin Ko (Dukuh Narukan, Desa Doro Kandang) > Makam Panji Margono (Dukuh Sambong, Desa Doro Kandang) > Makam Kyai Ali Badawi (Kompleks Pemakaman Masjid Jami’ Lasem) > Gunung Bugel (Makam Oe Ing Kiat, Bupati Lasem)

2. Kampung Lampion
    Telah sejak berabad-abad lamanya lasem dikenal dengan nama Le Petit Chinois / Kota Tiongkok kecil. Ini dikarenakan pemukiman-pemukinan cina tua yang berada di sekitaran kota Lasem. Peninggalan situs tata kota dan deretan bangunan rumah-rumah cina tua sampai saat ini masih dapat dilihat di kota Lasem ini. Maka pada kegiatan Festival Lasem dalam rangka memperingati haul Mbah Sambu, Mbah Srimpet maka salah satu desa dengan komunitas pecinan yang ada di Lasem, yaitu desa Karang turi akan dihiasi dengan berbagai lampion selama kegiatan perayaan Haul Mbah Sambu, Mbah Srimpet berlangsung. Selain itu juga, Desa Karangturi akan dijadikan sentral kegiatan-kegiatan pagelaran seni dan budaya.

3. Pameran Foto Arkeologi & Seni Lukis
    Kegiatan berupa pameran foto situs-situs dan benda-benda bersejarah hasil temuan yang ada di Lasem. Kegiatan akan menggunakan salah satu rumah cina tua di daerah Desa Karang Turi atau yang dikenal dengan nama Le Petit Chinois.

4. Pasar Batik Tulis Lasem
    Batik tulis lasem merupakan salah satu karwa warisan para leluhur yang keberadaannya saat ini sudah tak asing lagi di dunia perbatikan Nasional bahkan dunia. Batik Tulis Lasem dapat dikatakan sebagai salah satu batik pesisir yang memiliki sejarah panjang dan tua dibandingkan daerah-daerah lain. Motifnya yang berbeda dari pada batik-batik lain merupakan perpaduan atau hasil akulturasi budaya seni batik Jawa, Campa dan Cina. Batik ini bahkan disimpan dan dapat dilihat di museum Teluk Pinang, Malaysia.
Maka pada even ini, Lasem sebagai satu-satunya daerah penghasil Batik Tulis Lasem akan membuat Pasar Batik Tulis Lasem selama perayaan Haul berlangsung, yakni dari tanggal 15 Oktober – 20 Oktober 2013. Lokasi Sepanjang Jalan Masuk Desa Soditan, atau sebelah utara perempatan Masjid Jami’ Lasem.

5. Penyelenggaraan Qurban
   Kegiatan Haul Mbah Sambu dan Mbah Srimpet yang ramaikan juga dengan kegiatan Festival Lasem kebetulan sekali memang bebarengan dengan Hari Raya Idul Adha yang dalam tradisi muslim akan dilaksanakan tradisi penyembelihan hewan kurban. Maka pada kegiatan ini, Penyelenggaran Qurban akan di laksanakan dari tanggal 15 Oktober – 17 Oktober 2013 di Masjid Jami’ Lasem.

6. Panggung Budaya
    Kegiatan ini berisi pementasan-pementasan teater dan kesenian tradisional Wayang Bengkong. Yang akan dilaksanakan di kawasan Kampung Seribu Lampion atau di desa Karang turi, Lasem. Jadwal Kegiatan antara lain pada tanggal 16, 17, dan 18 Oktober 2013.

7. Lomba Pidato dan Lomba Hadroh
    Merupakan salah satu rangkaian kegiatan dalam rangka Haul Mbah Sambu, dan Mbah Srimpet. Kegiatan dilaksanakan selama tanggal 16 Oktober dan 17 Oktober 2013 di Masjid Jami’ Lasem.

8. Pawai Lasem dari Masa Ke Masa
    Kegiatan Haul Mbah Sambu dan Mbah Srimpet pada tahun-tahun sebelumnya memang selalu diadakan, maka pada kesempatan ini Kegiatan Karnaval akan dikemas sedemikian rupa dengan tema Lasem dari Masa Ke Masa, yang mana diharapkan pada pawai ini dapat menjadi Kaca Benggala bagi masyarakat Lasem khususnya juga para pengunjung untuk menatap Lasem dahulu-dahulunya dimulai pada Zaman Majapahit, Masa mulai masuknya islam, sampai pada masa Zaman Kolonial Belanda. Kegiatan berlangsung pada tanggal 18 Oktober 2013.

9. Khitanan Massal
    Kegiatan ini menjadi rangkaian kegiatan peringatan Haul Mbah Sambu, Mbah Srimpet yang dilaksanakan pada tanggal 18 Oktober 2013.

10. Pengajian Akbar dalam rangka Haul Mbah Sambu dan Mbah Srimpet
    Kegiatan ini dapat dikatakan adalah salah satu kegiatan penting dalam semua rangkaian kegiatan. Kegiatan berupa pengajian dan doa bersama ini akan diadakan pada malam hari, tanggal 18 Oktober 2013.

11. Haul Mbah Srimpet
    Kegiatan berupa tahlil dan doa bersama untuk peringatan Haul Mbah Srimpet pada tanggal 18 Oktober 2013.
    Dalam catatan Carita Sejarah Lasem gubahan R.P. Kamzah (1858 Masehi) dan ditulis ulang oleh R.P. Karsono (1920 Masehi): Mbah Srimpet adalah salah satu tokoh Adipati Lasem yang diangkat oleh Sultan Pajang pada masa itu dan mendapat gelar Pangeran Tejakusuma I dan memerintah Lasem pada tahun 1507 Syaka (1585 Masehi) – 1575 Syaka (1653 Masehi). Nama asli beliau adalah Teja Bagus Srimpet atau Ki Ageng Giring II. Pada tahun beliau diangkat menjadi Adipati Lasem (1585 Masehi), kemudian dibangun pula Masjid Jami’ Lasem yang menjadi masjid besar kota Lasem. Maka dapat dikatakan bahwa Mbah Srimpet atau Teja Bagus Srimpet atau Ki Ageng Giring II atau Pangeran Tejakusuma I Adipati Lasem yang pertama membangun pertama kali Masjid Jami’ Lasem.
Dalam catatan ini pula diceritakan bahwa demi kepentingan kebutuhan syiar agama Islam yang ada di Lasem, maka pada tahun 1625 Masehi beliau mengundang seorang guru besar agama Islam dari Tuban bernama Syeh Maulana Sham Bwa Smarakandhi atau yang biasa disebut Mbah Sambu atau Sayyid Abdurrahman bin Hasyim bin Sayyid Abdurrahma Basyaiban.

12. Haul Mbah Sambu
    Kegiatan berupa tahlil dan doa bersama untuk peringatan Haul Mbah Sambu pada tanggal 19 Oktober 2013.
    Dalam catatan Carita Sejarah Lasem gubahan R.P. Kamzah (1858 Masehi) dan ditulis ulang oleh R.P. Karsono (1920 Masehi), nama beliau adalah Syeh Maulana Sham Bwa Smarakandhi dan masyarakat sekitar akhirnya menyebut beliau dengan nama Mbah Sambu. Tetapi, dalam prasasti marmer berukuran kecil bertuliskan huruf arab menyatakan bahwa nama asli beliau adalah Sayyid Abdurrahman bin Hasyim bin Sayyid Abdurrahma Basyaiban. Beliau berasal dari Tuban dan menetap di Lasem untuk kemudian berdakwah dan menjadi guru agama bagi masyarakat Lasem pada abad ke 15 Masehi. Kharisma beliau begitu dikenal terutama bagi kalangan pesantren di Indonesia, khususnya di jawa. Dari beliau jugalah Ulama-Ulama di Lasem lahir, sehingga sampai sekarang banyak sekali pondok-pondok pesantren di daerah lasem sehingga Lasem juga dikenal dengan sebutan Kota Santri.


RUNDOWN HAUL MBAH SAMBU, MBAH SRIMPET, DAN FESTIVAL LASEM

Napak Tilas Pejuang Perang Lasem
Lasem, 13 Oktober, 09.00-selesai

Kampung Lampion (8 Hari)
Desa Karangturi – Lasem, 13-20 Oktober 2013, selama Festival berlangsung

Exhibition (6 Hari)
1. Pameran Foto Arkeologi dan Seni Lukis (6 Hari)
di Desa Karangturi – Lasem, 14-20 Oktober 2013, 20.00 - selesai
2. Pasar Batik Lasem (6 Hari) tanggal 15 - 20 Oktober 2013 diikuti 40+ pengusaha batik tulis Lasem
di Desa Soditan – Lasem, 15-19 Oktober 2013, 09.00-selesai

Panggung Budaya (3 Hari)
Desa Karangturi – Lasem, setiap 19.00 wib - selesai
1. Pentas Wayang Bengkong, 16 Oktober 2013
2. Pentas Teater “Ataru” SMA 2 Rembang, 16 Oktober 2013
3. Pentas Teater “Mangga Pisang Jambu” Semarang, 17 Oktober 2013
4. Pentas Teater “Lingkar” Semarang, 19 Oktober 2013

Haul Mbah Sambu, Mbah Srimpet di Masjid Jami’ Lasem
1. Penyelenggaraan Qurban
di Masjid Jami’ Lasem, 15-17 Oktober 2013
2. Lomba Pidato, 16 Oktober 2013, pagi-selesai
3. Lomba Hadroh, 17 Oktober 2013, pagi-selesai
4. Haul Mbah Srimpet, 18 Oktober 2013, 06.00 wib - selesai
5. Pengajian Akbar Haul Mbah Sambu, Mbah Srimpet, 18 Oktober 2013, 19.00 wib -selesai
6. Khotmil Qur’an, 19 Oktober 2013, 07.30-12.00 wib
7. Haul Mbah Sambu, 19 Oktober 2013, 14.00-17.00 wib

Carnival
1. Pawai “Lasem dari Masa ke Masa”, 18 Oktober 2013, 14.00 wib – selesai
Rute : Start Desa Karangturi, Soditan, Sumber Girang, sampai Parkiran Masjid Jami’ Lasem
2. Lasem Batik Carnival, 20 Oktober 2013, 13.00-selesai.
Rute : Start Desa Karangturi – Masjid Jami’ Lasem

Penyelenggara
Panitia Haul Mbah Sambu, Mbah Srimpet, dan Festival Lasem 2013

Sekretariat Panitia FESTIVAL LASEM : Desa Gedongmulyo RT 04 RW 01,
Lasem-Rembang-Jawa Tengah- Indonesia, 59271
Telp. 0295-532022, Hp. 081325315999 / 085325325666

---

Info :
+ ketik di google: festival lasem
+ http://www.festivallasem.com/
+ https://www.facebook.com/Festival Lasem

+https://twitter.com/festivallasem


Sumber : https://www.facebook.com/events/1381578082079358/?notif_t=plan_user_joined

Jumat, 12 Juli 2013

DESA SENDANGASRI

Tentang Desa Sendangsari, Kecamatan Lasem, Kabupaten Rembang

A. SEJARAH SINGKAT DESA SENDANGASRI
Desa Sendangasri merupakan salah satu desa yang berada di Kecamatan Lasem, Kabupaten Rembang, Jawa Tengah. Sendangasri terbentuk dari dua kata, yaitu sendang dan asri. Sendang artinya blumbang atau sumur lebar, sedangkan asri artinya lestari. Jadi, Sendangasri artinya sendang yang tidak pernah kering.
Desa Sendangasri terdiri dari tiga dukuh yaitu Bendan, Rangkah, dan Pelem. Pada zaman dahulu Dukuh Rangkah disebut sebagai kerajan karena dukuh ini ditempati oleh kepala desa. Di dukuh ini juga terdapat sendang, sehingga dukuh ini juga bertanggungjawab menyuplai air ke dukuh-dukuh lain yang ada di desa.
Seiring berjalannya waktu, istilah kerajan mulai luntur. Seperti halnya pemerintahan desa sekarang, dimana kepala desa dipilih secara langsung oleh warga dan calon kepala desa pun bisa dari berbagai dukuh. Lain halnya dengan sendang., fungsi sendang itu tetap tidak berubah dan airnya pun tidak pernah kering.
Menurut kepercayaan masyarakat setempat, siapa saja yang kerap kali mandi di sendang tersebut akan awet muda dan selamat dari bencana yang akan menimpa. Orang Sendangasri percaya, kalau ada seseorang yang bermain-main di sendang, berbuat keonaran, atau tidak menggunakan sendang dengan baik, maka orang itu akan “kesambet” (kerasukan makhluk halus). Konon, sendang ditunggu oleh seorang danyang (makhluk halus) yang bernama Mbah Jenggot atau Mbah So. Ada juga yang percaya bahwa sendang itu dulunya digunakan sebagai tempat mandi para bidadari atau dewa-dewa yang kebetulan singgah. Itulah yang menyebabkan mengapa sendang itu dikeramatkan sampai sekarang dan setiap malam satu Syura diadakan upacara selamatan.

B. KEADAAN GEOGRAFIS DESA SENDANGASRI
Desa Sendangasri termasuk daerah dataran rendah. Desa ini dihimpit oleh daerah pegunungan dan daerah perkotaan. Adapun batas-batas wilayahnya sebagai berikut.
Sebelah utara : Desa Sriombo,
Sebelah barat : Desa Tasiksono (pesisir),
Sebelah selatan : Desa Selopuro dan Desa Soditan,
Sebelah timur : Desa Kajar dan Pegunungan Kajar.
Desa Sendangasri adalah salah satu desa yang subur. Desa ini merupakan salah satu penghasil padi terbesar di Rembang. Pemanfaatan tanah Sendangasri antara lain sebagian besar tanahnya digunakan untuk lahan persawahan. Sisanya digunakan untuk perladangan dan perkampungan.
Desa Sendangasri terbagi menjadi tiga dusun, yaitu: (1) Bendan, (2) Rangkah, (3) Pelem. Masing-masing dusun mengutamakan padi sebagai tanaman pokok. Akan tetapi, sejarah nama dari dusun tersebut merupakan nama tanaman-tanaman, misalnya dinamakan Dusun Bendan karena di dusun ini terdapat pohon bendan, yaitu pohon yang serupa dengan tanaman sukun. Sedangkan nama Dusun Pelem terbentuk atas pertimbangan banyaknya pohon mangga di dusun tersebut. Walaupun curah hujan Desa Sendangasri tidak begitu besar, tetapi Desa Sendangasri tidak kekurangan air. Sungai yang mengalir berasal dari daerah Kajar (pegunungan) dan bermuara di pantai, juga termasuk dalam salah satu aset desa.

C. PENDUDUK
Penduduk Desa Sendangasri rata-rata masih berpengetahuan rendah. Sebagian besar penduduk menggantungkan hidupnya pada sektor pertanian. Antarwarga desa masih mempunyai sifat kekeluargaan yang masih kental. Hal ini dapat dilihat dari kebersamaan mereka bergotong royong, misalnya dalam membantu mendirikan rumah, renovasi rumah, pernikahan, dan lain-lain. Mereka tidak meminta imbalan atau balas jasa. Inilah yang biasa disebut orang dengan istilah “sambatan”.
1. Mata Pencaharian
a. Bertani, merupakan mata pencaharian yang utama, baik mempunyai sawah sendiri atau sebagai buruh.
b. Beternak, ada yang beternak sapi, kambing, ayam, maupun itik.
c. Berdagang. Profesi berdagang ini juga tidak terlepas dari sektor pertanian. Ada beberapa penduduk yang menjual hasil pertaniannya sendiri.
d. Pegawai negeri. Walaupun jumlahnya tidak begitu banyak, akan tetapi peran pegawai negeri di Sendangasri cukup signifikan.
e. Wiraswasta

2. Agama
Mayoritas penduduk Desa Sendangasri memeluk agama Islam. Setiap dusun mempunyai masjid utama. Masjid terbesar berada di Dusun Bendan. Selain agama Islam, penduduk Desa Sendangasri juga berada Budha, Hindu, dan Kristen. Bahkan masih ada aliran kejawen (animisme dan dinamisme). Keberagaman agama tersebut tidak membuat perpecahan diantara warga. Mereka menjunjung tinggi toleransi dan saling menghargai.

3. Pelapisan Sosial Masyarakat
Di desa ini orang-orang yang berpendidikan tinggi dan berpengetahuan luas mempunyai kedudukan tinggi dan dianggap sebagai orang yang serba tahu, sehingga pegawai negeri sangat dihormati dan disegani.

4. Pendidikan
Dilihat dari sudut pendidikan, penduduk Desa Sendangasri masih tergolong rendah. Hanya beberapa orang yang melanjutkan sekolahnya sampai perguruan tinggi. Kebanyakan mereka bersekolah sampai tingkat SMP. Kesadaran penduduk akan pentingnya pendidikan masih sangat kurang. Bahkan, adat menikah muda sudah menjadi kebiasaan umum.

5. Pola Perkampungan
Dahulu, pusat pemerintahan berada di Dusun Rangkah. Sekarang ini pola perkampungan yang memusat pada daerah pemerintahan sudah tidak berlaku, di mana ada lahan kosong di situ didirikan rumah. Namun, biasanya pembangunan rumah baru tidak jauh dari rumah orang tuanya. Jadi, ada kecenderungan satu keluarga mengelompok pada suatu daerah tertentu.

6. Upacara Adat
Walaupun jaman sudah berkembang, akan tetapi masyarakat Desa Sendangasri masih memiliki kepercayaan terhadap hal-hal mistis. Upacara-upacara yang ada antara lain.
a. Sedekah bumi
b. Selamatan di sendang
c. Malem Sanga (selamatan pada hari ke-29 di Bulan Ramadhan)
d. Suran (selamatan malam satu Syura)
e. Kirim do’a atau Ruwah
f. Sepasar (selamatan lima hari setelah menikah)
g. Selamatan weton (hari kelahiran)
h. Mitoni (selamatan akan tujuh bulan orang hamil)
i. Mrocoti (selamatan akan kelahiran)
j. Pupakan (selamatan ketika bayi berumur lima hari)
k. Selapan (selamatan ketika bayi berumur 36 hari)
l. Kematian (selamatan Sur Tanah adalah selamatan setelah mayit dikubur, tiga hari setelah meninggal dunia, tujuh hari setelah meninggal dunia, empat puluh hari setelah meninggal dunia, nyatus yaitu selamatan seratus hari setelah meninggal dunia, mendak siji yaitu selamatan dua ratus hari setelah meninggal dunia, mendak loro yaitu selamatan tiga ratus hari setelah meninggal dunia, nyewu yaitu selamatan seribu hari setelah meninggal dunia)

D. LATAR BELAKANG UPACARA SEDEKAH BUMI DI DESA SENDANGASRI
Awal mula diadakan sedekah bumi di Desa Sendangasri adalah untuk menyedekahi tanah yang ada di Desa Sendangasri sebagai wujud sukur kepada Tuhan YME. Saat itu pun masih sangat kental pengaruh Hindu kuno yang telah bercampur dengan Animisme dan Dinamisme. Masyarakat percaya, hasil panen yang sukses ditentukan oleh salah satu punden yang dihuni oleh Danyang Mbah Timbul. Punden ini terletak di tengah-tengah Desa Sendandasri. Danyang Mbah Timbul dipercaya sebagai danyang yang mbaureksa (memelihara) Desa Sendangasri dari segala bahaya yang mengancam. Maka, saat itu sedekah itu pun ditujukan untuk menghormati Danyang Mbah Timbul. Ada kepercayaan, apabila sedekah bumi tidak dilaksanakan, maka Danyang Mbah Timbul akan marah. Dikhawatirkan dengan kemarahan Mbah Timbul panen akan gagal dan berbagai bencana akan muncul seperti bencana banjir atau wabah penyakit.
Seiring dengan perkembangan zaman, beberapa kepercayaan sudah mulai luntur. Sedekah bumi dianggap sebagai syukuran desa, tapi acaranya tidak berbeda jauh dari zaman dulu. Yang membedakan, pada sedekah bumi yang sekarang disertai do’a-do’a Islami. Namun demikian, masih banyak masyarakat yang mempunyai kepercayaan sama dengan awal mula sedekah bumi dilaksanakan.
Kapan pertama kali sedekah bumi dilaksanakan tidak jelas diketahui. Budaya ini sudah berlangsung secara turun-temurun dan mengakar di masyarakat, meskipun banyak kepercayaan atau agama baru yang berkembang. Esensi dari upacara sedekah bumi itu pun tidak berubah. Upacara sedekah bumi seolah-olah menjadi upacara wajib yang dilaksanakan.


B. PENYELENGGARAAN UPACARA SEDEKAH BUMI

1. Tempat Penyelengaraan
Upacara sedekah bumi di desa Sendangasri (dukuh Bendan) dilaksanakan di punden yang dipercaya oleh masyarakat setempat sebagai rumah Dayang Mbah Timbul.
Di punden tersebut terdapat tempat-tempat yang berupa.
a. Kuburan kuno, yang merupakan kuburan Danyang Mbah Timbul (yang disebut punden)
b. Pohon besar, yang dipercaya oleh masyarakat setempat dihuni oleh Danyang Mbah Timbul. Pohon besar ini dikeramatkan dan digunakan untuk meletakkan sesaji.
c. Plataran (halaman), yang digunakan sebagai tempat pertunjukkan kethoprak atau wayang kulit dan digunakan sebagai tempat berebutan ancak dalam upacara sedekah bumi.
d. Balai besar, yang digunakan sebagai dapur umum serta tempat untuk mempersiapkan segala kebutuhan makanan dalam acara sedekah bumi. Balai besar ini berbentuk seperti rumah tanpa dinding dan hanya terdiri dari satu ruangan.

2.Waktu Penyelenggaraan
Tradisi sedekah bumi di desa Sendangasri dilaksanakan setiap tahun setelah selesai panen. Tepatnya pada hari Minggu pahing, karena menurut kepercayaan masyarakat setempat, hari Minggu pahing merupakan hari yang tepat untuk menyelenggarakan upacara sedekah bumi dan hari yang dikeramatkan oleh warga setempat. Sedekah bumi tahun ini diselenggarakan pada hari Minggu Pahing tanggal 02 Juni 2013.




Alasan sedekah bumi dilaksanakan setelah panen.
a. Alasan Ekonomi
Biaya yang diperlukan untuk melaksanakan upacara sedekah bumi sangat banyak, apabila dilaksanakan setelah panen maka warga desa Sendangasri merasa tidak merasa keberatan karena kondisi keuangan mereka masih dalam keadaan bagus.
b. Pelaksanaan sedekah bumi setelah panen dimaksudkan supaya usaha bertani di musim berikutnya dapat terlaksana lebih bik dan hasil panennya lebih memuaskan dari panen sebelumnya.
c. Sebagai bentuk rasa syukur karena panen telah berhasil

3.Persiapan Pelaksanaan
Sebelum diadakannya sedekah bumi, diperlukan persiapan-persipan yang bertujuan agar upacara tersebut berjalan dengan lancar. Hal yang utama dibuat adalah ancak. Untuk tahun ini, sedekah bumi di dukuh Bendan membuat 9 ancak. Perincinnya adalah setiap RT membuat 2 ancak. Di Bendan ada 4 RT sehingga ancak yang dibuat berjumlah 8, sementara 1 ancak dibuat oleh para pemuda.
Ancak berbentuk seperti meja, dengan panjang ±80cm, lebar ±70cm dan tinggi ±1 m, ancak ini berbentuk menyerupai rak yang tersusun atas dua tingkat. Setiap ancak atasnya dihias dengan hiasan yang unik. Untuk tahun ini ancak-ancak dibuat dengan model hiasan Nyamuk,Kera Sakti,Semut,Kura-Kura,Buto,dll. Di atas hiasan-hiasan tersebut diletakkan jajanan anak-anak yang beraneka ragam. Fungsi dari ancak tersebut adalah.

a. Tingkat pertama
Tingkat ini digunakan sebagai tempat untuk meletakkan beraneka makanan tradisional, antara lain.

- Dumbeg
Dumbeg merupakan makanan wajib di setiap acara sedekah bumi di desa Sedangasri. Makanan ini merupkan makanan tradisional khas Rembang, terbuat dari tepung beras, gula pasir atau gula aren dan ditambahkan garam, air nira atau legen (kalau suka ditaburi buah nangka atau kelapa muda yang dipotong seperti dadu). Adonan tersebut lalu dimasukkan ke dalam daun kelapa (janur) yang telah dibentuk seperti kerucut (terompet). Agar adonan nantinya dapat terbentuk dengan baik, maka bentuk kerucut harus rapat. Dumbeg mempunyai bau yang khas karena dibungkus oleh janur.

- Gemblong
Gemblong sering disebut dengan jadah. Bahan yang digunakan untuk membuat gemblong adalah ketan, kelapa muda, dan garam. Ketiganya dicampur lalu selagi panas ditumbuk di atas keranjang yang terbuat dari daun lontar atau daun kelapa muda. Alat yang digunakan untuk menumbuk dilapisi dengan daun lontar tujunnya supaya alat tersebut tidak lengket dengan ketan. Ketan yang sudah ditumbuk dicetak berbentuk persegi dan dibungkus dengan daun pisang.

- Jenang Waluh
Dibuat dari buah waluh yang dicampur dengan gula aren, air nira, dan garam. Jenang waluh biasa dimakan bersama dengan jadah.

- Bugis
Dibuat dari tepung ketan, gula aren, dan diisi dengan potongan kelapa yng berbentuk bulatan.
- Dll

b. Tingkat Kedua
Digunakan sebagai tempat nasi beserta lauk pauknya.



4. Pelaksanaan Upacara Sedekah Bumi
Seiring dengan berjalannya waktu, upacara sedekah bumi di Desa Sendangasri mengalami perubahan, namun esensi dan makna dari sedekah bumi itu tetap sama. Sekarang ini upacara sedekah bumi tidak hanya diikuti oleh warga Desa Sendangsri, namun juga oleh masyarakat di luar desa. Tujuan kedatangan mereka adalah untuk mendapatkan ambeng yang dipercaya dapat membawa berkah.
Dahulu ancak yang telah dibuat langsung dikumpulkan di punden dan upacara sedekah bumi dimulai. Untuk saat ini, ancak yang telah dibuat dikumpulkan di punden kemudian diarak keliling kampung (seperti karnaval agustusan) arak-arakan sangat ramai karena disertai dengan gamelan, kenthongan, dan lain-lain. Saat berkeliling desa itulah, ancak yang berbentuk buta ijo mengambil ampau yang diletakkan di depan rumah warga.
Setelah ancak diarak keliling desa, ancak dikumpulkan kembali di punden kemudian, didoakan oleh salah seorang tokoh agama di Desa Sendangasri, setelah didoakan ancak kemudian diperebutkan. Saat perebutan berlangsung warga Sendangasri cenderung mengalah dan lebih mengutamakan penduduk dari luar desa, karena salah satu tujuan dari sedekah bumi adalah untuk bersedekah. Masyarakat Sendangasri percaya semakin banyak ancak yang roboh maka semakin banyak rejeki yang akan datang di panen berikutnya.
Namun ada yang disayangkan dalam upacara tersebut yaitu banyak makanan yang mubazir, karena saat perebutan ancak banyak makanan yang jatuh ke tanah dan diinjak-injak.
Acara sedekah bumi berakhir dengan pertunjukkan wayang kulit atau kethoprak selama sehari semalam untuk tahun ini pertunjukkannya adalah kethoprak dan campur sari. Hal yang menarik pada saat upacara sedekah bumi suasana di desa tersebut ramai seperti hari raya. Warga setempat memakai pakaian baru, mereka percaya bahwa dengan memakai pakaian baru maka jiwa mereka akan bersih.


5. Larangan-Larangan
Hal yang dilarang dalam upacara sedekah bumi adalah para pengunjung dilarang merusak ancak yang telah dihias atau mengambil makanan walau hanya sedikit sebelum ancak didoakan.

C. HUBUNGAN UPACARA SEDEKAH BUMI DI DESA SENDANGASRI DENGAN RELIGIUS (HINDU KUNO) DAN ALAM PIKIRAN TERHADAP BENDA SAKRAL
Upacara sedekah bumi di Desa Sendangasri berpengaruh timbal balik dengan kepercayaan masyarakat terhadap benda sakral seperti punden dan pohon.
Keyakinan masyarakat kepada para dewa yang diimplikasikan terhadap Danyang yang sudah berbaur dengan kepercayaan animisme dan dinamisme tercermin dalam suatu sikap dan tingkah laku masyarakat baik secara individu maupun kelompok, mengingat sudah meluasnya pengaruh agama Islam di Desa Sendangasri. Sikap dan tingkah laku masyarakat yang seolah-olah melembaga dan dilakukan secara rutin pada saat tertentu misalnya pemberian sesaji tidak pernah ditinggalkan dalam upacara sedekah bumi.
Disisi lain, sedekah bumi secara religi telah memberi rangsangan dan dorongan kepada masyarakat untuk meningkatkan keyakinan mereka baik terhadap kepercayaan, keselamatan, kesejahteran, kepuasan batin maupun keyakinan terhadap Tuhan. Dengan demikian, secara timbal balik upacara sedekah bumi yang dilaksanakan setahun sekali oleh masyarakat di Desa Sendangasri berpengaruh terhadap keyakinan masyarakat, kesakralan benda dan segala tata upacara yang dilaksanakan dalam upacara sedekah bumi.

Sumber : http://sastra-cerkak.blogspot.com/2009/05/tentang-desa-sendangsari-kecamatan.html