Senin, 04 April 2016

Sinetron Silat/Kolosal Semakin Subur

CERITA silat termasuk salah satu bentuk cerita yang sangat banyak penggemarnya, walaupun tanpa publikasi, buku-buku cerita silat karangan Khoo Ping Hoo, SH Mintarja, hingga 1995 masih tetap laku keras. Bahkan komik cerita silat yang pernah populer seperti Jaka Sembung (Djair), belakangan itu dibuat lagi dalam bentuk novel. Atau cobalah datang (saat itu) ke para penjual koran dan majalah di Alun-Alun Bandung. Juga dari kios-kios koran, majalah, di stasiun-stasiun kereta api, maka akan dengan mudah dijumpai buku serial Wiro Sableng karya Bastian Tito.

Seperti halnya majalah yang terbit mingguan atau bulanan, maka buku serial cerita silat juga terbit secara teratur dalam waktu tertentu, dan para penggemarnya selalu setia membeli buku-buku lanjutannya dengan harga yang relatif murah. Itulah sebabnya cerita silat jauh lebih memasyarakat dibandingkan novel atau roman yang banyak diresensi media massa.

Kenyataan itu pula yang membuat para produser PH (�production house�) belakangan itu berlomba memburu cerita sinetron yang populer untuk disinetron serialkan. Sukses film dan sinetron, Si Buta dari Goa Hantu dan Saur Sepuh, setidaknya kian meyakinkan keberadaan cerita silat sebagai sesuatu yang memiliki daya jual yang tinggi.

TPI (Televisi Pendidikan Indonesia) boleh disebut sebagai TV swasta yang memelopori penayangan sientron silat produksi dalam negeri melalui kisah Satria Madangkara karya Niki Kosasih. Kemudian Mahkota Mayangkara, dan Kaca Benggala. Ketiga sinetron silat itu terbukti mendapat sambutan yang baik dari pemirsa. RCTI (Rajawali Citra Televisi Indonesia) juga tak mau ketinggalan juga menayangkan serial Komik Ganes TH, Si Buta dari Goa Hantu sebanyak 52 episode. Diputar pada hari Minggu dengan menampilkan pendatang baru (saat itu), Hadi Leo, sebagai Si Buta. Sinetron yang mengambil lokasi syuting di Sukabumi tersebut, mencapai rating yang baik.

Kemudian, ANteve (Andalas Televisi) yang mengutamakan tayangan produk impor, ternyata mampu meraih sukses melalui sinetron silat Singgasana Brama Kumbara. Sinetron yang disutradarai Denny HW berdasarkan cerita Niki Kosasih dan skenario Imam Tantowi itu, ternyata selalu ditunggu penggemarnya. Tak heran, kalau ANteve memutarnya dua kali, yakni Sabtu malam dan diulang lagi pada hari Minggu. Kelebihan serial Singgasana Brama Kumbara, selain menampilkan sederetan pemain-pemain terkenal, juga didukung dengan trik-triknya yang memenuhi standar. Misalnya, ketika Brama Kumbara menaiki Burung Garuda (yang menunggangi Burung Rajawali dalam serial Return of The Condor Heroes). Dari segi popularitas atau penggemarnya, sinetron silat kita memang belum bisa menandingi kisah Yoko atau Thio Bu Kie dalam To Liong To (keduanya Indosiar), tapi kehadiran sinetron silat dan penggemarnya terasa lebih konsisten.

UMUMNYA, cerita silat kita sering dikaitkan dengan latar belakang sejarah. Meskipun ada juga yang lebih mendekati kisah cerita silat Cina klasik. Cerita silat versi pertama. Umpamanya Saur Sepuh, Kaca Benggala, Mahkota Majaphit, Mahkota Mayangkara, Singgasana Brama Kumbara, Nagasasra Sabuk Inten, Jaka Sembung, dll. Sedangkan yang mengikuti pola cerita silat kalsik antara lain Panji Tengkorak karya Hans Jaladara, yang menarik kebanyakan cerita silat yang dibuat sinetron, justru yang sebelumnya sudah dibuat film dan termasuk film-film yang sukses secara komersial.

Herry Topan Intercine Production, yang membuat sinetron serial Si Buta dari Goa Hantu, belakangan itu tengah menggarap Wiro Sableng (RCTI) dan Reo Anak Serigala. Menurut Herry Topan, salah satu keuntungan membuat sinetron silat sebab tidak perlu didukung oleh pemain-pemain terkenal. Tumpuan utama daya tarik sinetron silat adalah popularitas cerita, dan kehebatan trik-triknya. Meskipun begitu, bukan berarti �budget� untuk produksi sinetron silat jadi menyusut. Biaya untuk sinetron silat tetap mahal. Sebab, mesti menggunakan trik, lokasi, dan �setting� yang sulit.

Menyadari daya tarik film silat, TV swasta belakangan itu lebih gencar menayangkan serial silat Mandarin. Kalau sebelumnya TPI dan RCTI menayangkan sejumlah serial silat Mandarin seperti The Grand Canal, Taichi Master, Legend of The Condor Heroes, The Legendary Fox, dll. Belakangan justru Indosiar yang menyodok melalui dua serial silat Mandarin, yang jadi buah bibir serta mampu mengungguli semua tayangan yang diputar secara bersamaan, yaitu serial Return of The Condor Heroes dan Pedang Pembunuh Naga (keduanya Indosiar). Bahkan SCTV (Surya Citra Televisi) juga tak ketinggalan melalui kisah Pendekar Ulat Sutra. Kebanyakan silat Mandarin yang meningkat penggemarnya adalah serial silat ayng telah di-�dub� ke dalam bahasa Indonesia.

Saat itu, ada beberapa cerita silat yang tengah digarap umumnya cerita silatyang memang sudah populer, yaitu sinetron Wiro Sableng, Nagasasra Sabuk Inten, Reo Anak Serigala, Panji Tengkorak, dan Jaka Sembung, yang rencana (saat itu) akan ditayangkan di RCTI dan SCTV. Umumnya dibuat lebih dari 50 episode. Sinetron silat memang jarang yang dibuat 6 atau 13 episode, seperti halnya cerita drama rumah tangga, sebab salah satu kekuatan atau daya tarik cerita silat adalah petualangan sang pendekar yang bisa berganti-ganti pasangan, tempat , dan selalu memungkinkan munculnya peristiwa dan konflik-konflik baru. Dengan kata lain, cerita film silat memang bisa dirancang lebih leluasa.

YANG menarik dari perkembangan cerita silat yang disinetronkan, karena pemeran-pemeran tokoh utamanya berbeda dengan film. Dengan begitu, pemeran utama dalam cerita silat memang tidak berpengaruh dengan popularitas pemeran utama untuk film konsusmi bioskop. Dalam Singgasana Brama Kumbara misalnya, pemeran Brama Kumbara adalah pendatang baru Anto. Sedangkan dalam film diperankan oleh Fendy Pradhana. Begitu dalam sinetron Si Buta dari Goa Hantu, pemeran utamanya bukan lagi Ratno Timoer (yang menjadi �trademark� Si Buta dalam film bioskop), melainkan pendatang baru (ketika itu), Hadi Leo. Pemeran Wiro Sableng, juga dipilih pemain baru.

Tidak heran kalau nama-nama Barry Prima, Advent Bangun, Harry Capri, Ratno Timoer, yang begitu dominan sebagai pemeran utama film silat, dalam sinetron kurang begitu populer.

Melihat gejala suksesnya sinetron serial silat, tidak mustahil akan lebih banyak lagi cerita silat populer yang akan diburu para produser PH. Apalagi materinya memang terbilang memadai. Komik dan cerita silat lainnya yang pernah populer, yaitu Pendekar Bambu Kuning (U. Syah), Golok Setan (Hans), Sandhora (Teguh Sandhora), Walet Merah (Hans Jaladara), Tutur Tinular (S. Tijab), atau kisah Senopati Pamungkas-nya Arswendo Atmowiloto.

Sutradara sinetron silat yang terbilang laris saat itu, kebanyakan adalah sutradara yang memang berpengalaman menyutradarai film-film silat, seperti Denny HW, Imam Tantowi, Abdul Kadir, Liliek Sujio, Dasri Yakob, atau sutradara baru seperti Rachmat Kartolo dan Dimas Haring.

Salah satu kelebihan sutradara film silat, karena harus memiliki kemampuan yang lebih dengan sutradara sinetron jenis opera sabun. Misalnya, Debby Sahertian bisa cepat beradaptasi menjadi sutradara sinetron komedi Flamboyan 108 (Indosiar), karena nyaris tak ada tantangan lokasi dan �setting�. Kebanyakan, cuma adegan dari ruangan ke ruangan di rumah yang itu-itu juga. Tapi, sutradara film silat memang mesti benar-benar memahami trik, �setting�, dan beraneka ragam sudut pengambilan. Apakah �shooting� kebanyakan dilakukan di alam terbuka.

Tahun 1996, serbuan sinetron silat ke televisi swasta, barangkali (waktu itu) akan lebih gencar lagi, saat televisi swasta saling bersaing merebut perhatian penggemar dengan sinetron silat yang seru, tegang, romantik, dan banyak muncul tokoh yang aneh-aneh.

Dok. Pikiran Rakyat, 1 Oktober 1995, dengan sedikit perubahan
   
Sumber : http://forum.detik.com/acara-televisi-jadul-t59526p240.html