Mulyo Irwanto
Sabtu, 13 Mei 2017
Sinopsis Serial Roro Mendut Indosiar
Episode 1 (18 Januari 2005)
Badai dahsyat mengamuk mengharubirukan sebuah kapal layar. Nahkoda kapal tersebut, Pronocitro dan awak kapalnya berusaha keras menyelamatkan kapal dari keganasan ombak laut. Ternyata badai itu disebabkan Jin Jahat Penguasa Laut Cina Selatan yang ingin menenggelamkan kapal itu lantaran Pronocitro tidak memberi sesaji padanya.
Walau Jaka Belek sudah meminta Pronocitro memberikan sesaji berupa kambing yang mereka bawa. Tetap saja Pronocitro menolak, bahkan nekat menyerang Jin Jahat. Terjadilah pertarungan seru antara mereka, namun Pronocitro kewalahan menghadapi Jin Jahat yang lebih kuat. Tiba-tiba dari angkasa terbang meluncur seorang anak lelaki usia 12 tahun, Bagus Kelana yang lalu menyerang Jin Jahat itu.
Jin Jahat Penguasa Laut Cina Selatan jadi kaget. Bagus Kelana menyerang Jin Jahat dengan ganas. Pronocitro menyaksikan dengan kagum dan tak menyangka jika anak kecil ternyata memiliki kesaktian hebat. Jin Jahat keteteran, akhirnya kabur melarikan diri terjun ke dalam air. Pronocitro berterima kasih pada Bagus Kelana.
Sementara itu di tempat lain, sebuah perahu layar bercadik menuju ke sebuah pantai. Di pantai itu seorang gadis dengan ceria melambaikan tangannya, namanya Mendut. Mendut gembira menyambut kedatangan perahu milik kakak ibunya, yang selalu ia panggil dengan Wo atau paman tua. Keceriaan gadis yang baru tumbuh besar itu disaksikan oleh ketiga pria berkuda yang berbusana gemperlap. Salah satunya adalah Adipati Pragolo yang masih muda dan tampan. Ia tertarik pada sikap Mendut yang lincah namun tidak acuh padanya.
Episode 2 (25 Januari 2005)
Permasalahan yang menimpa Pronocitro tampak belum usai juga sebab ketika menginap di sebuah penginapan, mendadak kamarnya dimasuki seseorang berpakaian hitam yang langsung membabatnya dengan pedang. Tapi Ponocitro yang sudah waspada, berhasil berkelit dan menendang si Pakaian Hitam sehingga terpental.
Pronocitro lalu membekuknya dan memaksa si Pakaian Hitam yang berprofesi pembunuh bayaran mengaku siapa penyuruhnya. Setelah diancam, akhirnya pembunuh bayaran itu menjelaskan bahwa penyuruhnya adalah Wong Agung Pathi. Pronocitro hanya tersenyum dan menyuru orang itu kembali ke Wong Agung Pathi bahwa ia siap menghadapi lawannya.
Di sisi lain, Adipati Progolo senang mendengar Ni Semongko sudah sampai pada tahap menjinakkan cara berpikir Roro Mendut yang begitu bebas. Adipat itu pun senang mendengar Roro Mendut yang akan dijadikan selirnya itu sangat cerdas.
Nyi Singobarong menyampaikan pada Pronocitro bahwa ayahnya menginginkan adanya ikatan abadi dalam persahabatannya dengan Sayid Abdullah yang sudah sama-sama bersetuju untuk menikahkan Putreri Khasanah dengan Pronocitro. Pemuda itupun berlayar ke Melaka bersama teman-temannya untuk mengunjungi tunangannya, Puteri Khasanah.
Akankah Roro Mendut menjadi selir Adipati Pragolo ? Bagaimana perjalanan Pronocitro dalam mengunjungi calon istrinya ? Anda ikuti saja kisah mereka dalam "Roro Mendut" episode ke-2 yang tayang pada hari Selasa (25/01), pukul 19.00 WIB di Indosiar.
Episede 3 ( 03 Februari 2005)
Pronocitro gelisah mendengar Pathi mau perang dengan Mataram. Sawung Ajit mengajak Pronocitro kembali ke Pekalongan. Tapi Pronocitro tidak mau karena tidak ingin meninggalkan Mendut yang kini menjadi selir Adipati Pragolo. Apalagi jika Pathi kalah, tentu Mendut akan diboyong ke Mataram.
Namun Panji Alam membawa kabar bahwa Siti Nurbaeti diculik oleh bajak laut Tengkorak Merah. Pronocitro berang dan mengajak teman-temannya membebaskan Siti Nurbaeti, Naka berlayarlah mereka mengejar perahu bajak laut Tengkorak Merah. Pronocitro berhasil mengejar perahu bajal laut itu di bandar labuh Pulau Hantu. Dengan kesaktiannya, Pronocitro berhasil mengalahkan para bajak laut dan membebaskan Siti Nurbaeti.
Pasukan Tumenggung Wiruogona yang sebenarnya telah berhasil mengalahkan pasukan Pathi, namun mereka menjadi porak poranda oleh pasukan Adipati Pragolo dan para Tumenggungnya. Tumenggung Wirugona menjadi berang. Celakanya salah satu Tumenggung Mataram yaitu Tumenggung Endranata diam-diam berkhianat dan memberitahu Adipati Pragolo bahwa ia akan membantu Pathi jika terjadi perang antara Pathi dan Mataram.
Pengkhianatannya tidak tanggung-tanggung sebab pada malam hari di perkemahan pasukan Mataram yang di bawah pimpinan langsung oleh Susuhunan Hanyokrokusumo, diam-diam Tumenggung Endranata menyelinap keluar menemui lima orang penyusup dari pihak musuh. Penyusup-penyusup yang dipimpin Brintik itu berencana menyerang Susuhunan Hanyokrokusumo yang berdiam di tenda paling mewah di perkemahan. Tetapi upaya mereka terhalang oleh Tumenggung Martoloyo.
Saksikanlah episode ke-3 sinetron "Roro Mendut" yang tayang pada hari Selasa (01/02), pukul 19.00 WIB di Indosiar.
Episode 4
Pertempuran pasukan Pathi dengan pasukan Mataram berlangsung dengan dahsyat. Korban banyak berjatuhan. Adipati Pragolo gugur dalam pertempuran itu. Susuhunan Hanyokrokusumo memerintahkan Tumenggung Wiroguno untuk terus menyerang ke ibu kota Pathi dan memboyong kekayaan Pathi ke Mataram.
Permaisuri Adipati Pragolo minta Tumenggung Mangunjaya untuk menyelamatkan putra mahkota Pathi, Raden Rangga yang berumur 8 tahun itu, kalau Pathi kalah perang dengan Mataram.
Roro Mendut murung mendengar Adipati Pragolo gugur. Padahal hal pertama kali bertemu, ia tak peduli pada sang Adipati, tapi di saat sang Adipati pergi ke medan perang, ia mulai tertarik dan mencintai Adipati tersebut.
Pasukan Mataram mulai bergerak memasuki kota Pathi. Penjaga gerbang menutup pintu kedaton. Pasukan meriam pun melepaskan tembakan. Tembok kedaton pun jebol. Tumenggung Wiroguna memerintahkan pasukannya terus bergerak. Dalam waktu singkat benteng kedaton jatuh ke tangan pasukan Mataram. Maka Kadipaten Pathi pun jatuh di bawah kekuasaan Mataram.
Tumenggung Wiroguna memboyong Garwo Padmi, Roro Mendut dan para selir Adipati Pragolo ke Mataram ...
Episode 5
Kemuning Putih menceritakan pada Pronocitro bahwa negerinya, Pulau Jambuna yang kaya dengan emas telah dijajah bangsa Portugis. Malapetaka itu terjadi ketika ia menolong seorang pemuda kulit putih yang berambut jagung yang terdampar di Jambuna. Pemuda kulit putih yang bernama Manuel Alvarez berhasil merayu Kemuning Putih jatuh cinta padanya padahal ayah dan semua tetua pulau Jambuna tidak setuju.
Ternyata keserakahan Alvarez terbukti karena ia kabur setelah dengan licik mengorek semua rahasia dari Kemuning Putih tentang tambang emas, tentang cara masuk dan keluar dari pulau. Pada mulanya Alvarez mengajak Kemuning kabur namun Kemuning menolak karena tahu bahwa tidak satupun orang boleh meninggalkan Jambuna. Alvarez benar-benar kejam karena sebelum kabur, ia sempat membunuh Swasta yang hendak mencegah Kemuning.
Pronocitro mengatakan pada Kemuning Putih bahwa ia ingin merebut kembali Pulau Jambuna dari tangan Alvarez dan bangsa Portugis. Tentu saja Kemuning Putih gembira dan menyambut uluran bantuan Pronocitro. Kemuning Putih lalu mengarahkan Pronocitro untuk mengarahkan kapalnya berlayar ke arah timur menuju ke pelangi, pintu masuk ke pulau Jambuna ....
Episode 7 (02 Maret 2005)
Pronocitro semakin waspada saat memasuki ruang bawah tanah yang tampak sepi. Instingnya merasakan kalau di gua itu ada marabahaya yang siap mengancam dirinya. Firasatnya benar karena tiba-tiba ia diserang enam lelaki bersenjata. Pertempuran pun terjadi. Ia sangat heran menyaksikan lawan-lawannya yang kebal dan tidak bisa mati.
Saat keherannya memuncak, sebuah serangan balik membuat Pronocitro tak berdaya. Di saat itulah Balun muncul dan memerintahkan anak buahnya mengikat Pronocitro yang dituduh memasuki pulau tanpa izin. Sementara itu, Ntar Untir dan Daeng Kosim kebingungan mencari Pronocitro yang belum juga kembali.
Pronocitro yang terikat kedua tangannya takjub menyaksikan adegan yang mengherankan. Di depan matanya, Balun dan anak buahnya yang sedang mengeluarkan ajian ilmu nampak menjerit seperti orang kesakitan. Seluruh tubuh mereka berubah menyeramkan dan menjadi mayat-mayat hidup.
Tidak bedanya Pronocitro, Salim juga memasuki ruang lainnya yang merupakan bagian ruang bawah tanah tersebut. Dia menemukan seorang lelaki tua bernama Tamir yang diikat rantai. Salim segera membuka ikatan rantainya. Ternyata Tamir telah bertahun-tahun dirantai di tempat itu. Iapun bercerita kalau Balun adalah seorang wakil negeri Nusa Gaharu yang merebit kekuasaan dan membunuh Raja Niti.
Saksikanlah episode ke-7 serial sinetron "Roro Mendut" yang tayang pada hari Rabu (02/03), pukul 22.00 WIB di Indosiar.
Episode 8
Ni Semongko kaget lari ke halaman menyuruh Roro Mendut turun, kita ini di negeri orang. Mendut menjawab tanpa memelankan kudanya. Apa ada larangan selir tawanan naik kuda ? Ketika itu dari gerbang samping muncul Nyai Ajeng dan Ni Kuweni berjalan menuju gandok tempat Roro Mendut. Betapa kagetnya wanita paro baya itu, ketika hampir saja tertabrak kuda yang dikendarai Mendut.
Nyai Ajeng benar-benar marah, tapi mendadak dia hanya bisa melongo melihat yang diatas kuda itu Roro Mendut. Roro Mendut menghentikan kudanya dan melompat turun disamping Ni Samongko. Gendok Duku mengambil tali kuda dan membawanya pergi. Ni Samongko membisiki Roro Mendut supaya menunduk, menghormati wanita itu, karena dia Garwo Padmi Tumenggung Wiroguno, Ni Samongko buru-buru mengacungkan sembah pada Nyai Ajeng.
Roro Mendut juga melakukan hal yang sama. Nyai Ajeng menatap Roro Mendut dan bertanya. Kamu bisa menari ? Yang ditanya Roro Mendut. Tapi yang segera menjawab Ni Samongko. Maaf bendoro asuhan hamba ini tidak bisa menari, karena baru beberapa saat tinggal di Gandok Kadipaten. Mendut cepat menyambar. Bohong. Pengasuh hamba ini bohong. Saya bisa menari Nyai Ajeng, tapi dengan syarat. Nyai Ajeng heran dan bertanya apa?
Maka Mendut pun menjawab. Sesudah puas melihat-lihat kutaraja Mataram ini, saya minta dipulangkan kerumah Ibu saya di Teluk Cikai. Nyai Ajeng heran mendengar permintaan Mendut. Ia lalu berkata tidak pernah ada calon isteri Tumenggung mengajukan syarat. Mendut cepat menukas. Siapa bilang saya calon isteri Wiroguno. Tentu saja Nyai Ageng terkesiap mendengar kekurang ajaran Mendut.
Demikian pun Ni Samongko dan Ni Kuweni. Dengan tajam Nyai Ajeng berkata. Pedang dan Meriam Mataram telah meluluh lantakkan Pathi, kamu harus menurut pada sang penakluk. Tapi Mendut dengan ketus mengatakan dirinya bukan Adipati Pragolo, jadi tidak ada alasan baginya harus manut pada siapapun. Nyai Ajeng kesal, langsung meninggalkan Mendut. Tapi Tumenggung Wiroguno malah tertawa terbahak-bahak mendengar syarat yang diajukan Roro Mendut. Ia makin ingin melihat gadis menari.
Daeng Kosim Salim, Ntir Unir dan Bolu sedang berjalan-jalan basar Semarang. Ketika Daeng Kosim dan Salim sedang membeli legen, Jagaraja mendekat menepuk bahu Daeng Kosim seperti kena sihir Daeng Kosim dan Salim mengikuti Jagaraja pergi. Bolu kaget melihat Daeng Kosim dan Salim sudah tidak ada di tempat tukang legen. Keduanya segera mengejar ke arah Daeng Kosim dan Salim pergi. Bolu dan Ntir Untir berteriak-teriak memanggil Salim.
Salim dan Daeng Kosim terus mengikuti Jagaraga yang berjalan dengan cepat. Bolu dan Ntir Utir berteriak memanggil, tetapi yang dipanggil diam tak menjawab. Malah ketika keduanya mendekat, mereka dihajar oleh Salim dan Daeng Kosim. Bolu dan Ntir Untir melawan, tapi keduanya bukanlah tandingan Daeng Kosim dan Salim. Pronocitro kaget mendengar Bolu dan Ntir Untir melaporkan Daeng Kosim dan Salim seperti orang hilang ingatan menghajar mereka.
Episode 9
Pronocitro sama sekali tidak mau membiarkan kapal layarnya dibawa kabur Jagaraga. Dengan menumpang kapal Kyai Badri, Pronocitro bersama Jin Hijau mengejar kapal tersebut. Berkat pengalaman Jin Hijau, kapal Pronocitro yang dicuri itu berhasil dikejar. Pronocitro dan para anak buahnya melompat ke kapal dan bertarung dengan Jagaraga, Jarot dan Galar.
Pertarungan merebut kembali kapal Pronocitro itu berlangsung seru. Sawung Alit berhasil membebaskan Bolu dan Ntir Untir yang diikat di tiang utama kapal. Pronocitro minta tolong pada Kyai Mukhtar untuk membebaskan Salim dan Daeng Kosim dari sihir Gendam Jagaraga. Akhirnya Pronocitro dan Sawung Alit berhasil membunuh Jagaraga. Pronocitro pun memperoleh kembali kapalnya.
Tidak lama kemudian kapal Pronocitro dan kapal Kyai Badri melaju beririingan di laut. Di tengah geladak, Pronocitro berdiri mematung seperti melamun. Ketika Ntir Untir bertanya, Pronocitro menceritakan tentang mimpinya. Rupanya Pronocitro bermimpi tentang Roro Mendut yang dikejar-kejar pria tanpa wajah yang menginginkannya menjadi istri pria tanpa wajah itu. Ntir Untir menyarankan Pronocitro agar menuju ke Mataram karena siapa tahu akan berjumpa Roro Mendut di sana.
Source : www.indosiar.com
Senin, 04 April 2016
Sinetron Silat/Kolosal Semakin Subur
CERITA silat termasuk salah satu bentuk cerita yang sangat banyak penggemarnya, walaupun tanpa publikasi, buku-buku cerita silat karangan Khoo Ping Hoo, SH Mintarja, hingga 1995 masih tetap laku keras. Bahkan komik cerita silat yang pernah populer seperti Jaka Sembung (Djair), belakangan itu dibuat lagi dalam bentuk novel. Atau cobalah datang (saat itu) ke para penjual koran dan majalah di Alun-Alun Bandung. Juga dari kios-kios koran, majalah, di stasiun-stasiun kereta api, maka akan dengan mudah dijumpai buku serial Wiro Sableng karya Bastian Tito.
Seperti halnya majalah yang terbit mingguan atau bulanan, maka buku serial cerita silat juga terbit secara teratur dalam waktu tertentu, dan para penggemarnya selalu setia membeli buku-buku lanjutannya dengan harga yang relatif murah. Itulah sebabnya cerita silat jauh lebih memasyarakat dibandingkan novel atau roman yang banyak diresensi media massa. Kenyataan itu pula yang membuat para produser PH (�production house�) belakangan itu berlomba memburu cerita sinetron yang populer untuk disinetron serialkan. Sukses film dan sinetron, Si Buta dari Goa Hantu dan Saur Sepuh, setidaknya kian meyakinkan keberadaan cerita silat sebagai sesuatu yang memiliki daya jual yang tinggi. TPI (Televisi Pendidikan Indonesia) boleh disebut sebagai TV swasta yang memelopori penayangan sientron silat produksi dalam negeri melalui kisah Satria Madangkara karya Niki Kosasih. Kemudian Mahkota Mayangkara, dan Kaca Benggala. Ketiga sinetron silat itu terbukti mendapat sambutan yang baik dari pemirsa. RCTI (Rajawali Citra Televisi Indonesia) juga tak mau ketinggalan juga menayangkan serial Komik Ganes TH, Si Buta dari Goa Hantu sebanyak 52 episode. Diputar pada hari Minggu dengan menampilkan pendatang baru (saat itu), Hadi Leo, sebagai Si Buta. Sinetron yang mengambil lokasi syuting di Sukabumi tersebut, mencapai rating yang baik. Kemudian, ANteve (Andalas Televisi) yang mengutamakan tayangan produk impor, ternyata mampu meraih sukses melalui sinetron silat Singgasana Brama Kumbara. Sinetron yang disutradarai Denny HW berdasarkan cerita Niki Kosasih dan skenario Imam Tantowi itu, ternyata selalu ditunggu penggemarnya. Tak heran, kalau ANteve memutarnya dua kali, yakni Sabtu malam dan diulang lagi pada hari Minggu. Kelebihan serial Singgasana Brama Kumbara, selain menampilkan sederetan pemain-pemain terkenal, juga didukung dengan trik-triknya yang memenuhi standar. Misalnya, ketika Brama Kumbara menaiki Burung Garuda (yang menunggangi Burung Rajawali dalam serial Return of The Condor Heroes). Dari segi popularitas atau penggemarnya, sinetron silat kita memang belum bisa menandingi kisah Yoko atau Thio Bu Kie dalam To Liong To (keduanya Indosiar), tapi kehadiran sinetron silat dan penggemarnya terasa lebih konsisten. UMUMNYA, cerita silat kita sering dikaitkan dengan latar belakang sejarah. Meskipun ada juga yang lebih mendekati kisah cerita silat Cina klasik. Cerita silat versi pertama. Umpamanya Saur Sepuh, Kaca Benggala, Mahkota Majaphit, Mahkota Mayangkara, Singgasana Brama Kumbara, Nagasasra Sabuk Inten, Jaka Sembung, dll. Sedangkan yang mengikuti pola cerita silat kalsik antara lain Panji Tengkorak karya Hans Jaladara, yang menarik kebanyakan cerita silat yang dibuat sinetron, justru yang sebelumnya sudah dibuat film dan termasuk film-film yang sukses secara komersial. Herry Topan Intercine Production, yang membuat sinetron serial Si Buta dari Goa Hantu, belakangan itu tengah menggarap Wiro Sableng (RCTI) dan Reo Anak Serigala. Menurut Herry Topan, salah satu keuntungan membuat sinetron silat sebab tidak perlu didukung oleh pemain-pemain terkenal. Tumpuan utama daya tarik sinetron silat adalah popularitas cerita, dan kehebatan trik-triknya. Meskipun begitu, bukan berarti �budget� untuk produksi sinetron silat jadi menyusut. Biaya untuk sinetron silat tetap mahal. Sebab, mesti menggunakan trik, lokasi, dan �setting� yang sulit. Menyadari daya tarik film silat, TV swasta belakangan itu lebih gencar menayangkan serial silat Mandarin. Kalau sebelumnya TPI dan RCTI menayangkan sejumlah serial silat Mandarin seperti The Grand Canal, Taichi Master, Legend of The Condor Heroes, The Legendary Fox, dll. Belakangan justru Indosiar yang menyodok melalui dua serial silat Mandarin, yang jadi buah bibir serta mampu mengungguli semua tayangan yang diputar secara bersamaan, yaitu serial Return of The Condor Heroes dan Pedang Pembunuh Naga (keduanya Indosiar). Bahkan SCTV (Surya Citra Televisi) juga tak ketinggalan melalui kisah Pendekar Ulat Sutra. Kebanyakan silat Mandarin yang meningkat penggemarnya adalah serial silat ayng telah di-�dub� ke dalam bahasa Indonesia. Saat itu, ada beberapa cerita silat yang tengah digarap umumnya cerita silatyang memang sudah populer, yaitu sinetron Wiro Sableng, Nagasasra Sabuk Inten, Reo Anak Serigala, Panji Tengkorak, dan Jaka Sembung, yang rencana (saat itu) akan ditayangkan di RCTI dan SCTV. Umumnya dibuat lebih dari 50 episode. Sinetron silat memang jarang yang dibuat 6 atau 13 episode, seperti halnya cerita drama rumah tangga, sebab salah satu kekuatan atau daya tarik cerita silat adalah petualangan sang pendekar yang bisa berganti-ganti pasangan, tempat , dan selalu memungkinkan munculnya peristiwa dan konflik-konflik baru. Dengan kata lain, cerita film silat memang bisa dirancang lebih leluasa. YANG menarik dari perkembangan cerita silat yang disinetronkan, karena pemeran-pemeran tokoh utamanya berbeda dengan film. Dengan begitu, pemeran utama dalam cerita silat memang tidak berpengaruh dengan popularitas pemeran utama untuk film konsusmi bioskop. Dalam Singgasana Brama Kumbara misalnya, pemeran Brama Kumbara adalah pendatang baru Anto. Sedangkan dalam film diperankan oleh Fendy Pradhana. Begitu dalam sinetron Si Buta dari Goa Hantu, pemeran utamanya bukan lagi Ratno Timoer (yang menjadi �trademark� Si Buta dalam film bioskop), melainkan pendatang baru (ketika itu), Hadi Leo. Pemeran Wiro Sableng, juga dipilih pemain baru. Tidak heran kalau nama-nama Barry Prima, Advent Bangun, Harry Capri, Ratno Timoer, yang begitu dominan sebagai pemeran utama film silat, dalam sinetron kurang begitu populer. Melihat gejala suksesnya sinetron serial silat, tidak mustahil akan lebih banyak lagi cerita silat populer yang akan diburu para produser PH. Apalagi materinya memang terbilang memadai. Komik dan cerita silat lainnya yang pernah populer, yaitu Pendekar Bambu Kuning (U. Syah), Golok Setan (Hans), Sandhora (Teguh Sandhora), Walet Merah (Hans Jaladara), Tutur Tinular (S. Tijab), atau kisah Senopati Pamungkas-nya Arswendo Atmowiloto. Sutradara sinetron silat yang terbilang laris saat itu, kebanyakan adalah sutradara yang memang berpengalaman menyutradarai film-film silat, seperti Denny HW, Imam Tantowi, Abdul Kadir, Liliek Sujio, Dasri Yakob, atau sutradara baru seperti Rachmat Kartolo dan Dimas Haring. Salah satu kelebihan sutradara film silat, karena harus memiliki kemampuan yang lebih dengan sutradara sinetron jenis opera sabun. Misalnya, Debby Sahertian bisa cepat beradaptasi menjadi sutradara sinetron komedi Flamboyan 108 (Indosiar), karena nyaris tak ada tantangan lokasi dan �setting�. Kebanyakan, cuma adegan dari ruangan ke ruangan di rumah yang itu-itu juga. Tapi, sutradara film silat memang mesti benar-benar memahami trik, �setting�, dan beraneka ragam sudut pengambilan. Apakah �shooting� kebanyakan dilakukan di alam terbuka. Tahun 1996, serbuan sinetron silat ke televisi swasta, barangkali (waktu itu) akan lebih gencar lagi, saat televisi swasta saling bersaing merebut perhatian penggemar dengan sinetron silat yang seru, tegang, romantik, dan banyak muncul tokoh yang aneh-aneh. Dok. Pikiran Rakyat, 1 Oktober 1995, dengan sedikit perubahan
Sumber : http://forum.detik.com/acara-televisi-jadul-t59526p240.html
|
Jumat, 11 Maret 2016
Trend Sinetron Sage/Kolosal Tahun 90-an
SINETRON jenis sage atau semi sejarah, cerita berbingkai sejarah, tapi sebenarnya bukan (murni) sejarah, terakhir (waktu itu) ini menjadi trend. TPI (Televisi Pendidikan Indonesia), RCTI (Rajawali Citra Televisi Indonesia), dan ANteve (Andalas Televisi) berebut menayangkan sinetron jenis ini. Walaupun kalangan praktisi pertelevisian, justru hanya melihat maraknya sinetron sage sebagai trend saja yang pada saatnya akan berganti dengan trend lain.
Sinetron berbiaya ratusan juta hingga Rp 1 milyar ini, konon sangat menguntungkan pihak televisi dan produser. Dan keberhasilan ini sesungguhnya kelanjutan sukses cerita sage di radio swasta dan film layar lebar sebelumnya.
Pihak TPI sangat mengklaim sebagai pelempar trend (�trendsetter�) maraknya sinetron sage televisi. Televisi pendidikan (waktu itu) ini memang mengawalinya dengan memutar 52 episode Mahkota Mayangkara (MM) di tahun 1993. Cerita yang dibuat penulis skenario cerita radio S Tijab dengan sutradara Lilik Sudjio ini, mengambil latar belakang kerajaan Majapahit semasa Prabu Jayanegara, raja kedua negeri itu, yang memerintah tahun 1309-1328 M. Mahkota Mayangkara meledak. TPI pun lantas menayangkan Saur Sepuh (SS), cerita sage karya Niki Kosasih, pada pertengahan 1993/1994. Juga meledak dengan 26 episode (Kisah Darah Biru) dan 26 episode (Perjalanan Berdarah) bercerita tentang kerajaan Madangkara di tatar Sunda.
Entah berapa episode TPI diuntungkan, televisi swasta ini semakin ketagihan. Mulai medio 1994 ini diputarlah lanjutan Saur Sepuh dengan episode Satria Madangkara 26 episode, yang diproduksi PT Global Sarana Nusantara dengan produksi pelaksana PT Genta Nusa Dwipantara, yang disutradarai Abdul Kadir dan El Badrun.
Bahkan menurut Hadi Abdullah, kasubsie program cerita TPI, pihaknya telah mempersiapkan cerita karya lain S Tijab, Kaca Benggala dengan sutradara Imam Tantowi. Cerita ini berlatar belakang kerajaan Mataram islam, dibuat 52 episode.
Rupanya ledakan demi ledakan sinetron TPI sempat mengusik perhatian. ANteve yang sejak Mei 1993 lewat PT Menara Gading Citra Perkasa, mulai memproduksi sinetron sage berjudul Singgasana Brama Kumbara. Tentu saja ini cerita tentang Prabu Brama Kumbara dari sebuah kerajaan di tatar kulon Madangkara. Cerita karya Niki Kosasih dengan penulis skenario Imam Tantowi dan sutradara Denny HW hingga 1994, belum terdengar kabar berikutnya.
Sinetron berbiaya produksi sekitar Rp 800 juta ini, dibuat untuk 52 episode, diperkuat artis Yati Octavia, Minati Atmanegara, Murti Sari Dewi, Devi Permatasari, Advent Bangun, dll. Tak hanya TPI dan ANteve. Terakhir, terbetik kabar, PT Bola Dunia Film (kabarnya bersama PT Menara Gading Citra Perkasa) siap memproduksi lanjutan serial Mahkota Mayangkara dengan episode Mahkota Milwatikta (MW) karya S Tijab, untuk tayangan di RCTI.
Belum jelas (waktu itu), alasan mengapa lanjutan MM malah dilarikan ke televisi swasta lain, bukan TPI. �Khan kontrak MM sudah habis,� ujar Hadi Abdullah dari TPI. Sayang, ia tak merinci, mengapa tak dilanjutkan. Tapi, sebuah sumber menduga, pengalihan tersebut karena alasan nilai kontrak yang tak tercapai antara TPI dan produser.
MM dalam ratingnya pernah mengalahkan cerita film India, Ramayana, yang juga meledak di TPI. Menurut sumber itu, wajar kalau pihak produser menuntut nilai kontrak lebih memadai ketimbang sebelumnya. Tapi, pihak produser belum berhasil dimintai keterangan tentang hal ini.
Belum ada keterangan dari pihak RCTI (saat itu). Yang pasti, sinetron sage MW dimulai produsernya tanggal 5 Juli 1994 ini. Tak lagi ditangani sutradara Lilik Sudjio, melainkan oleh Abnar Ramli. Tapi, menurut penuturan Eddy Chaniago, pemeran Rakuti dalam Mahkota Wilwatikta, ada perubahan beberapa non-pemain dalam Mahkota Wilwatikta. �Tapi, saya belum tau jelas siapa saja,� katanya.
Agaknya, perang sinetron sage masih akan berlangsung dalam beberapa waktu yang saat itu akan datang, setidaknya didasarkan perkiraan Hadi Abdullah, kasubsie program cerita TPI. �Beberapa tahun lagi, trend sinetron jenis ini masih ada,� katanya meramalkan.
Sukses di radio dan film
Ketika maraknya sinetron jenis sage, dua nama penulis cerita semi sejarah ini mencuat ke permukaan Niki Kosasih dan S Tijab. Keduanya ditumbuhkan di Sanggar Prathivi, walaupun kemudian keluar. Niki terkenal dengan cerita Saur Sepuh dan S Tijab dengan Tutur Tinular. Kedua cerita itu sukses besar di radio-radio swasta. Serial Saur Sepuh (SS) misalnya, telah diputar sekitar 2.760 seri atau sekitar 46 episode. Cerita yang disiarkan lebih dari 300 radio swasta itu, direkam PT Harvana Record dengan sponsor PT Kalbe Farma.
Setelah itu, insan-insan film melirik. Maka ada sejumlah perusahaan film, meminta pihak pemegang hak cipta Saur Sepuh, PT Kalbe Farma, untuk menyangkut sandiwara radio tersebut ke layar film. Akhirnya, PT Kanta Indah Film dengan sutradara Imam Tantowi, mendapatkan order. Sekitar lima episode difilmkan dan sukses! SS (Satria Madangkara), SS-2 (Pessangrahan Keramat), SS-3 (Kembang Gunung Lawu), SS-4 (Titisan Darah Biru), dan SS-5 (Istana Atap Langit). Menurut Niki Kosasih, cerita itu dipikirkannya sekitar tahun 1980. Baru tahun 1983, setelah sempat ditolak seumlah produser, cerita itu direkam untuk sandiwara radio.
Saur Sepuh pada intinya, bertutur tentang sebuah kerajaan di tatar kulon (Jawa Barat) bernama Madangkara yang diperintah seorang raja adil dan bijaksana. �Saya gambarkan raja Madangkara bernama Brama dan itu sangat super. Super ganteng, super hebat, super sakti, super adil, super bijaksana. Karena saya semula ingin menciptakan tokoh super yang bisa mengalahkan ketokohan Superman, Flash Gordon, atau Batman. Maka, saya ciptakan tokoh fiktif Brama Kumbara,� ujar Niki Kosasih.
Lawan dari Brama yang didukung adiknya, Mantili, adik iparnya, Patih Gotawa, Panglima Ringkuh, dan wadya balad lainnya adalah orang-orang dari kerajaan Kuntala yang dulu pernah menjajah kerajaan Madangkara. Cerita yang pernah dengan �action�, peperangan, pertarungan ilmu kanuragan yang mungkin sebagai sangat disukai pendengar radio. Sementara Mahkota Mayangkara, bercerita bagaimana ketika Raden Wijaya mendirikan kerajaan Majapahit, kemudian konflik intern para penggawanya, hingga konflik yang memanas saat Majapahit diperintah anaknya, Prabu Jayanegara.
Dok. Pikiran Rakyat, 3 Juli 1994, dengan sedikit perubahan
Sumber : http://m.forum.detik.com/acara-televisi-jadul-t59526p233.html
Sinetron berbiaya ratusan juta hingga Rp 1 milyar ini, konon sangat menguntungkan pihak televisi dan produser. Dan keberhasilan ini sesungguhnya kelanjutan sukses cerita sage di radio swasta dan film layar lebar sebelumnya.
Pihak TPI sangat mengklaim sebagai pelempar trend (�trendsetter�) maraknya sinetron sage televisi. Televisi pendidikan (waktu itu) ini memang mengawalinya dengan memutar 52 episode Mahkota Mayangkara (MM) di tahun 1993. Cerita yang dibuat penulis skenario cerita radio S Tijab dengan sutradara Lilik Sudjio ini, mengambil latar belakang kerajaan Majapahit semasa Prabu Jayanegara, raja kedua negeri itu, yang memerintah tahun 1309-1328 M. Mahkota Mayangkara meledak. TPI pun lantas menayangkan Saur Sepuh (SS), cerita sage karya Niki Kosasih, pada pertengahan 1993/1994. Juga meledak dengan 26 episode (Kisah Darah Biru) dan 26 episode (Perjalanan Berdarah) bercerita tentang kerajaan Madangkara di tatar Sunda.
Entah berapa episode TPI diuntungkan, televisi swasta ini semakin ketagihan. Mulai medio 1994 ini diputarlah lanjutan Saur Sepuh dengan episode Satria Madangkara 26 episode, yang diproduksi PT Global Sarana Nusantara dengan produksi pelaksana PT Genta Nusa Dwipantara, yang disutradarai Abdul Kadir dan El Badrun.
Bahkan menurut Hadi Abdullah, kasubsie program cerita TPI, pihaknya telah mempersiapkan cerita karya lain S Tijab, Kaca Benggala dengan sutradara Imam Tantowi. Cerita ini berlatar belakang kerajaan Mataram islam, dibuat 52 episode.
Rupanya ledakan demi ledakan sinetron TPI sempat mengusik perhatian. ANteve yang sejak Mei 1993 lewat PT Menara Gading Citra Perkasa, mulai memproduksi sinetron sage berjudul Singgasana Brama Kumbara. Tentu saja ini cerita tentang Prabu Brama Kumbara dari sebuah kerajaan di tatar kulon Madangkara. Cerita karya Niki Kosasih dengan penulis skenario Imam Tantowi dan sutradara Denny HW hingga 1994, belum terdengar kabar berikutnya.
Sinetron berbiaya produksi sekitar Rp 800 juta ini, dibuat untuk 52 episode, diperkuat artis Yati Octavia, Minati Atmanegara, Murti Sari Dewi, Devi Permatasari, Advent Bangun, dll. Tak hanya TPI dan ANteve. Terakhir, terbetik kabar, PT Bola Dunia Film (kabarnya bersama PT Menara Gading Citra Perkasa) siap memproduksi lanjutan serial Mahkota Mayangkara dengan episode Mahkota Milwatikta (MW) karya S Tijab, untuk tayangan di RCTI.
Belum jelas (waktu itu), alasan mengapa lanjutan MM malah dilarikan ke televisi swasta lain, bukan TPI. �Khan kontrak MM sudah habis,� ujar Hadi Abdullah dari TPI. Sayang, ia tak merinci, mengapa tak dilanjutkan. Tapi, sebuah sumber menduga, pengalihan tersebut karena alasan nilai kontrak yang tak tercapai antara TPI dan produser.
MM dalam ratingnya pernah mengalahkan cerita film India, Ramayana, yang juga meledak di TPI. Menurut sumber itu, wajar kalau pihak produser menuntut nilai kontrak lebih memadai ketimbang sebelumnya. Tapi, pihak produser belum berhasil dimintai keterangan tentang hal ini.
Belum ada keterangan dari pihak RCTI (saat itu). Yang pasti, sinetron sage MW dimulai produsernya tanggal 5 Juli 1994 ini. Tak lagi ditangani sutradara Lilik Sudjio, melainkan oleh Abnar Ramli. Tapi, menurut penuturan Eddy Chaniago, pemeran Rakuti dalam Mahkota Wilwatikta, ada perubahan beberapa non-pemain dalam Mahkota Wilwatikta. �Tapi, saya belum tau jelas siapa saja,� katanya.
Agaknya, perang sinetron sage masih akan berlangsung dalam beberapa waktu yang saat itu akan datang, setidaknya didasarkan perkiraan Hadi Abdullah, kasubsie program cerita TPI. �Beberapa tahun lagi, trend sinetron jenis ini masih ada,� katanya meramalkan.
Sukses di radio dan film
Ketika maraknya sinetron jenis sage, dua nama penulis cerita semi sejarah ini mencuat ke permukaan Niki Kosasih dan S Tijab. Keduanya ditumbuhkan di Sanggar Prathivi, walaupun kemudian keluar. Niki terkenal dengan cerita Saur Sepuh dan S Tijab dengan Tutur Tinular. Kedua cerita itu sukses besar di radio-radio swasta. Serial Saur Sepuh (SS) misalnya, telah diputar sekitar 2.760 seri atau sekitar 46 episode. Cerita yang disiarkan lebih dari 300 radio swasta itu, direkam PT Harvana Record dengan sponsor PT Kalbe Farma.
Setelah itu, insan-insan film melirik. Maka ada sejumlah perusahaan film, meminta pihak pemegang hak cipta Saur Sepuh, PT Kalbe Farma, untuk menyangkut sandiwara radio tersebut ke layar film. Akhirnya, PT Kanta Indah Film dengan sutradara Imam Tantowi, mendapatkan order. Sekitar lima episode difilmkan dan sukses! SS (Satria Madangkara), SS-2 (Pessangrahan Keramat), SS-3 (Kembang Gunung Lawu), SS-4 (Titisan Darah Biru), dan SS-5 (Istana Atap Langit). Menurut Niki Kosasih, cerita itu dipikirkannya sekitar tahun 1980. Baru tahun 1983, setelah sempat ditolak seumlah produser, cerita itu direkam untuk sandiwara radio.
Saur Sepuh pada intinya, bertutur tentang sebuah kerajaan di tatar kulon (Jawa Barat) bernama Madangkara yang diperintah seorang raja adil dan bijaksana. �Saya gambarkan raja Madangkara bernama Brama dan itu sangat super. Super ganteng, super hebat, super sakti, super adil, super bijaksana. Karena saya semula ingin menciptakan tokoh super yang bisa mengalahkan ketokohan Superman, Flash Gordon, atau Batman. Maka, saya ciptakan tokoh fiktif Brama Kumbara,� ujar Niki Kosasih.
Lawan dari Brama yang didukung adiknya, Mantili, adik iparnya, Patih Gotawa, Panglima Ringkuh, dan wadya balad lainnya adalah orang-orang dari kerajaan Kuntala yang dulu pernah menjajah kerajaan Madangkara. Cerita yang pernah dengan �action�, peperangan, pertarungan ilmu kanuragan yang mungkin sebagai sangat disukai pendengar radio. Sementara Mahkota Mayangkara, bercerita bagaimana ketika Raden Wijaya mendirikan kerajaan Majapahit, kemudian konflik intern para penggawanya, hingga konflik yang memanas saat Majapahit diperintah anaknya, Prabu Jayanegara.
Dok. Pikiran Rakyat, 3 Juli 1994, dengan sedikit perubahan
Sumber : http://m.forum.detik.com/acara-televisi-jadul-t59526p233.html
Minggu, 05 Januari 2014
Sinetron Kolosal Indonesia
Karmapala
SINOPSIS :
Ada salah satu film kolosal yang bagus dan sering kutonton dulu waktu kecil di indosiar,judulnya Karmapala.Pas pertama lihat film ini langsung tertarik dengan jalan ceritanya yang bagus,apalagi ada subali dan sugriwa juga,mirip-mirip sama sungokong.haha.Gara-gara nonton film ini disekolah sering pentung-pentungan sama teman-teman (jangan ditiru,adegan berbahaya).Tapi sayang,sekarang di indosiar gak ditayangkan lagi ya.Ya udahlah,akan saya ceritakan kembali saja tentang Film karmapala ini,bisa sekalian nostalgia masa lalu.Jadi,Film Karmapala ini bertutur mengenai sebuah kisah perebutan benda pusaka yang dikenal dengan Cupu Astragina.
Semula cupu tersebut tidak diketahui keberadaannya. Namun setelah
benda tersebut muncul ditangan Dewi Anjani, Guwarsa dan Guwarsi mulai
mempergunjingkannya. Bahkan kedua putra Resi Gotama itu, berusaha untuk
memperebutkannya.
Untuk melerai kedua putranya itu, dipanggillah Dewi Anjani. Resi Gotawa pun menanyakan perihal Cupu Astragina pada Dewi Anjani. Semula Dewi Astragina tak mau menjelaskannya. Tapi setelah didesak Dewi Anjani mengaku bahwa cupu tersebut dia peroleh dari ibunya, Dewi Indradi. Dewi Indradi kemudian mengkui bahwa cupu itu diperolehnya dari Betara Surya. Saat itu Dewi Indradi adalah kekasih Betara Surya. Namun dengan bergemuruhnya kawah Candradimuka akibat tapa yang dilakukan Resi Gotama, maka Dewi Indradi pun diperintahkan untuk turun ke Bumi dan menikah dengan Resi Gotama. Akhirnya Dewi Indradi pun menjalankan perintah betara Surya. Setelah Dewi Indradi menikah dengan Resi Gotama, dia memperoleh tiga putra. Saat itu Dewi Indradi pun diberi sebuah cupu oleh Betara Surya. Saat cupu diberikan, Betara Surya berkata, "Jika engkau merasa bersedih, bukalah cupu ini maka seluruh isi maya akan hadir dihadapanmu ".
Setelah itu disimpanlah Cupu Astragina tersebut oleh Dewi Indradi.
Saat ketiga putranya beranjak dewasa, Dewi Indradi menyerahkan cupu
Astragina pada Dewi Anjani. Dia sama sekali tak menyangka cupu tersebut
akan menjadi rebutan kedua putranya. Oleh karena itu, Resi Gotama pun
akhirnya memutuskan untuk mengirimkan kedua putranya itu ke bumi.
Sedangkan Cupu Astragina dia lemparkan sejauh mungkin. Dalam cupu
tersebut Resi Gotama menyimpan sebuah catatan kecil yang bertuliskan,
siapa saja yang menemukan cupu Astragina, maka dia yang akan menjadi
pemiliknya.
Tanpa membuang waktu Guwarsa dan Guwarsi pun mengejar kemana cupu itu
pergi. Saat Cupu Astragina jatuh disebuah telaga, Guwarsa dan Guwars
langsung menyelam kedalam dasar danau. Tanpa mereka sadari, saat muncul
kepermukaan, Guwarsa dan Guwarsi telah berubah bentuk menjadi seekor
kera. Saat itulah Guwarsa dan Guwarsi menggunakan Sughriwa dan Subali.
Dewi Anjani sendiri tak luput dari hukuman Resi Gotama. Walaupun
bentuknya kini berubah menjadi seekor kera, namun nama yang dipakainya
tetap yakni Dewi Anjani.
Cerita makin berkembang dengan munculnya tokoh baru dan juga beberapa pendekar dari dua golongan yang berusaha untuk dapat merebut kekuasaan. Perang besar-besaran yang melibatkan kedua belah pihak (Pandawa-Kurawa) akhirnya meletus. Namun tentu saja aja kebaikan yang akan selalu menang dalam medan pertempuran.
DAFTAR EPISODE :
Episode 1 : cupu manik astagina
Episode 2 : subali dan sugriwa
Episode 3 : harjuna sasrabahu
Episode 4 : rama dan sinta
Episode 5 : anoman obong
Episode 6 : ratu siluman buaya
Episode 7 : sarpakenaka gugur
Episode 8 : kumbakarna gugur
Episode 9 : rahwana gugur [TAMAT]
SUMBER :http://www.indosiar.com/sinopsis/karmapala_1079.html
http://media2give.blogspot.com/2013/05/review-film-kolosal-karmapala.html
Untuk melerai kedua putranya itu, dipanggillah Dewi Anjani. Resi Gotawa pun menanyakan perihal Cupu Astragina pada Dewi Anjani. Semula Dewi Astragina tak mau menjelaskannya. Tapi setelah didesak Dewi Anjani mengaku bahwa cupu tersebut dia peroleh dari ibunya, Dewi Indradi. Dewi Indradi kemudian mengkui bahwa cupu itu diperolehnya dari Betara Surya. Saat itu Dewi Indradi adalah kekasih Betara Surya. Namun dengan bergemuruhnya kawah Candradimuka akibat tapa yang dilakukan Resi Gotama, maka Dewi Indradi pun diperintahkan untuk turun ke Bumi dan menikah dengan Resi Gotama. Akhirnya Dewi Indradi pun menjalankan perintah betara Surya. Setelah Dewi Indradi menikah dengan Resi Gotama, dia memperoleh tiga putra. Saat itu Dewi Indradi pun diberi sebuah cupu oleh Betara Surya. Saat cupu diberikan, Betara Surya berkata, "Jika engkau merasa bersedih, bukalah cupu ini maka seluruh isi maya akan hadir dihadapanmu ".
Cerita makin berkembang dengan munculnya tokoh baru dan juga beberapa pendekar dari dua golongan yang berusaha untuk dapat merebut kekuasaan. Perang besar-besaran yang melibatkan kedua belah pihak (Pandawa-Kurawa) akhirnya meletus. Namun tentu saja aja kebaikan yang akan selalu menang dalam medan pertempuran.
DAFTAR EPISODE :
Episode 1 : cupu manik astagina
Episode 2 : subali dan sugriwa
Episode 3 : harjuna sasrabahu
Episode 4 : rama dan sinta
Episode 5 : anoman obong
Episode 6 : ratu siluman buaya
Episode 7 : sarpakenaka gugur
Episode 8 : kumbakarna gugur
Episode 9 : rahwana gugur [TAMAT]
SUMBER :http://www.indosiar.com/sinopsis/karmapala_1079.html
http://media2give.blogspot.com/2013/05/review-film-kolosal-karmapala.html
Langganan:
Postingan (Atom)
