CERITA silat termasuk salah satu bentuk cerita yang sangat banyak penggemarnya, walaupun tanpa publikasi, buku-buku cerita silat karangan Khoo Ping Hoo, SH Mintarja, hingga 1995 masih tetap laku keras. Bahkan komik cerita silat yang pernah populer seperti Jaka Sembung (Djair), belakangan itu dibuat lagi dalam bentuk novel. Atau cobalah datang (saat itu) ke para penjual koran dan majalah di Alun-Alun Bandung. Juga dari kios-kios koran, majalah, di stasiun-stasiun kereta api, maka akan dengan mudah dijumpai buku serial Wiro Sableng karya Bastian Tito.
Seperti halnya majalah yang terbit mingguan atau bulanan, maka buku serial cerita silat juga terbit secara teratur dalam waktu tertentu, dan para penggemarnya selalu setia membeli buku-buku lanjutannya dengan harga yang relatif murah. Itulah sebabnya cerita silat jauh lebih memasyarakat dibandingkan novel atau roman yang banyak diresensi media massa. Kenyataan itu pula yang membuat para produser PH (�production house�) belakangan itu berlomba memburu cerita sinetron yang populer untuk disinetron serialkan. Sukses film dan sinetron, Si Buta dari Goa Hantu dan Saur Sepuh, setidaknya kian meyakinkan keberadaan cerita silat sebagai sesuatu yang memiliki daya jual yang tinggi. TPI (Televisi Pendidikan Indonesia) boleh disebut sebagai TV swasta yang memelopori penayangan sientron silat produksi dalam negeri melalui kisah Satria Madangkara karya Niki Kosasih. Kemudian Mahkota Mayangkara, dan Kaca Benggala. Ketiga sinetron silat itu terbukti mendapat sambutan yang baik dari pemirsa. RCTI (Rajawali Citra Televisi Indonesia) juga tak mau ketinggalan juga menayangkan serial Komik Ganes TH, Si Buta dari Goa Hantu sebanyak 52 episode. Diputar pada hari Minggu dengan menampilkan pendatang baru (saat itu), Hadi Leo, sebagai Si Buta. Sinetron yang mengambil lokasi syuting di Sukabumi tersebut, mencapai rating yang baik. Kemudian, ANteve (Andalas Televisi) yang mengutamakan tayangan produk impor, ternyata mampu meraih sukses melalui sinetron silat Singgasana Brama Kumbara. Sinetron yang disutradarai Denny HW berdasarkan cerita Niki Kosasih dan skenario Imam Tantowi itu, ternyata selalu ditunggu penggemarnya. Tak heran, kalau ANteve memutarnya dua kali, yakni Sabtu malam dan diulang lagi pada hari Minggu. Kelebihan serial Singgasana Brama Kumbara, selain menampilkan sederetan pemain-pemain terkenal, juga didukung dengan trik-triknya yang memenuhi standar. Misalnya, ketika Brama Kumbara menaiki Burung Garuda (yang menunggangi Burung Rajawali dalam serial Return of The Condor Heroes). Dari segi popularitas atau penggemarnya, sinetron silat kita memang belum bisa menandingi kisah Yoko atau Thio Bu Kie dalam To Liong To (keduanya Indosiar), tapi kehadiran sinetron silat dan penggemarnya terasa lebih konsisten. UMUMNYA, cerita silat kita sering dikaitkan dengan latar belakang sejarah. Meskipun ada juga yang lebih mendekati kisah cerita silat Cina klasik. Cerita silat versi pertama. Umpamanya Saur Sepuh, Kaca Benggala, Mahkota Majaphit, Mahkota Mayangkara, Singgasana Brama Kumbara, Nagasasra Sabuk Inten, Jaka Sembung, dll. Sedangkan yang mengikuti pola cerita silat kalsik antara lain Panji Tengkorak karya Hans Jaladara, yang menarik kebanyakan cerita silat yang dibuat sinetron, justru yang sebelumnya sudah dibuat film dan termasuk film-film yang sukses secara komersial. Herry Topan Intercine Production, yang membuat sinetron serial Si Buta dari Goa Hantu, belakangan itu tengah menggarap Wiro Sableng (RCTI) dan Reo Anak Serigala. Menurut Herry Topan, salah satu keuntungan membuat sinetron silat sebab tidak perlu didukung oleh pemain-pemain terkenal. Tumpuan utama daya tarik sinetron silat adalah popularitas cerita, dan kehebatan trik-triknya. Meskipun begitu, bukan berarti �budget� untuk produksi sinetron silat jadi menyusut. Biaya untuk sinetron silat tetap mahal. Sebab, mesti menggunakan trik, lokasi, dan �setting� yang sulit. Menyadari daya tarik film silat, TV swasta belakangan itu lebih gencar menayangkan serial silat Mandarin. Kalau sebelumnya TPI dan RCTI menayangkan sejumlah serial silat Mandarin seperti The Grand Canal, Taichi Master, Legend of The Condor Heroes, The Legendary Fox, dll. Belakangan justru Indosiar yang menyodok melalui dua serial silat Mandarin, yang jadi buah bibir serta mampu mengungguli semua tayangan yang diputar secara bersamaan, yaitu serial Return of The Condor Heroes dan Pedang Pembunuh Naga (keduanya Indosiar). Bahkan SCTV (Surya Citra Televisi) juga tak ketinggalan melalui kisah Pendekar Ulat Sutra. Kebanyakan silat Mandarin yang meningkat penggemarnya adalah serial silat ayng telah di-�dub� ke dalam bahasa Indonesia. Saat itu, ada beberapa cerita silat yang tengah digarap umumnya cerita silatyang memang sudah populer, yaitu sinetron Wiro Sableng, Nagasasra Sabuk Inten, Reo Anak Serigala, Panji Tengkorak, dan Jaka Sembung, yang rencana (saat itu) akan ditayangkan di RCTI dan SCTV. Umumnya dibuat lebih dari 50 episode. Sinetron silat memang jarang yang dibuat 6 atau 13 episode, seperti halnya cerita drama rumah tangga, sebab salah satu kekuatan atau daya tarik cerita silat adalah petualangan sang pendekar yang bisa berganti-ganti pasangan, tempat , dan selalu memungkinkan munculnya peristiwa dan konflik-konflik baru. Dengan kata lain, cerita film silat memang bisa dirancang lebih leluasa. YANG menarik dari perkembangan cerita silat yang disinetronkan, karena pemeran-pemeran tokoh utamanya berbeda dengan film. Dengan begitu, pemeran utama dalam cerita silat memang tidak berpengaruh dengan popularitas pemeran utama untuk film konsusmi bioskop. Dalam Singgasana Brama Kumbara misalnya, pemeran Brama Kumbara adalah pendatang baru Anto. Sedangkan dalam film diperankan oleh Fendy Pradhana. Begitu dalam sinetron Si Buta dari Goa Hantu, pemeran utamanya bukan lagi Ratno Timoer (yang menjadi �trademark� Si Buta dalam film bioskop), melainkan pendatang baru (ketika itu), Hadi Leo. Pemeran Wiro Sableng, juga dipilih pemain baru. Tidak heran kalau nama-nama Barry Prima, Advent Bangun, Harry Capri, Ratno Timoer, yang begitu dominan sebagai pemeran utama film silat, dalam sinetron kurang begitu populer. Melihat gejala suksesnya sinetron serial silat, tidak mustahil akan lebih banyak lagi cerita silat populer yang akan diburu para produser PH. Apalagi materinya memang terbilang memadai. Komik dan cerita silat lainnya yang pernah populer, yaitu Pendekar Bambu Kuning (U. Syah), Golok Setan (Hans), Sandhora (Teguh Sandhora), Walet Merah (Hans Jaladara), Tutur Tinular (S. Tijab), atau kisah Senopati Pamungkas-nya Arswendo Atmowiloto. Sutradara sinetron silat yang terbilang laris saat itu, kebanyakan adalah sutradara yang memang berpengalaman menyutradarai film-film silat, seperti Denny HW, Imam Tantowi, Abdul Kadir, Liliek Sujio, Dasri Yakob, atau sutradara baru seperti Rachmat Kartolo dan Dimas Haring. Salah satu kelebihan sutradara film silat, karena harus memiliki kemampuan yang lebih dengan sutradara sinetron jenis opera sabun. Misalnya, Debby Sahertian bisa cepat beradaptasi menjadi sutradara sinetron komedi Flamboyan 108 (Indosiar), karena nyaris tak ada tantangan lokasi dan �setting�. Kebanyakan, cuma adegan dari ruangan ke ruangan di rumah yang itu-itu juga. Tapi, sutradara film silat memang mesti benar-benar memahami trik, �setting�, dan beraneka ragam sudut pengambilan. Apakah �shooting� kebanyakan dilakukan di alam terbuka. Tahun 1996, serbuan sinetron silat ke televisi swasta, barangkali (waktu itu) akan lebih gencar lagi, saat televisi swasta saling bersaing merebut perhatian penggemar dengan sinetron silat yang seru, tegang, romantik, dan banyak muncul tokoh yang aneh-aneh. Dok. Pikiran Rakyat, 1 Oktober 1995, dengan sedikit perubahan
Sumber : http://forum.detik.com/acara-televisi-jadul-t59526p240.html
|
Senin, 04 April 2016
Sinetron Silat/Kolosal Semakin Subur
Jumat, 11 Maret 2016
Trend Sinetron Sage/Kolosal Tahun 90-an
SINETRON jenis sage atau semi sejarah, cerita berbingkai sejarah, tapi sebenarnya bukan (murni) sejarah, terakhir (waktu itu) ini menjadi trend. TPI (Televisi Pendidikan Indonesia), RCTI (Rajawali Citra Televisi Indonesia), dan ANteve (Andalas Televisi) berebut menayangkan sinetron jenis ini. Walaupun kalangan praktisi pertelevisian, justru hanya melihat maraknya sinetron sage sebagai trend saja yang pada saatnya akan berganti dengan trend lain.
Sinetron berbiaya ratusan juta hingga Rp 1 milyar ini, konon sangat menguntungkan pihak televisi dan produser. Dan keberhasilan ini sesungguhnya kelanjutan sukses cerita sage di radio swasta dan film layar lebar sebelumnya.
Pihak TPI sangat mengklaim sebagai pelempar trend (�trendsetter�) maraknya sinetron sage televisi. Televisi pendidikan (waktu itu) ini memang mengawalinya dengan memutar 52 episode Mahkota Mayangkara (MM) di tahun 1993. Cerita yang dibuat penulis skenario cerita radio S Tijab dengan sutradara Lilik Sudjio ini, mengambil latar belakang kerajaan Majapahit semasa Prabu Jayanegara, raja kedua negeri itu, yang memerintah tahun 1309-1328 M. Mahkota Mayangkara meledak. TPI pun lantas menayangkan Saur Sepuh (SS), cerita sage karya Niki Kosasih, pada pertengahan 1993/1994. Juga meledak dengan 26 episode (Kisah Darah Biru) dan 26 episode (Perjalanan Berdarah) bercerita tentang kerajaan Madangkara di tatar Sunda.
Entah berapa episode TPI diuntungkan, televisi swasta ini semakin ketagihan. Mulai medio 1994 ini diputarlah lanjutan Saur Sepuh dengan episode Satria Madangkara 26 episode, yang diproduksi PT Global Sarana Nusantara dengan produksi pelaksana PT Genta Nusa Dwipantara, yang disutradarai Abdul Kadir dan El Badrun.
Bahkan menurut Hadi Abdullah, kasubsie program cerita TPI, pihaknya telah mempersiapkan cerita karya lain S Tijab, Kaca Benggala dengan sutradara Imam Tantowi. Cerita ini berlatar belakang kerajaan Mataram islam, dibuat 52 episode.
Rupanya ledakan demi ledakan sinetron TPI sempat mengusik perhatian. ANteve yang sejak Mei 1993 lewat PT Menara Gading Citra Perkasa, mulai memproduksi sinetron sage berjudul Singgasana Brama Kumbara. Tentu saja ini cerita tentang Prabu Brama Kumbara dari sebuah kerajaan di tatar kulon Madangkara. Cerita karya Niki Kosasih dengan penulis skenario Imam Tantowi dan sutradara Denny HW hingga 1994, belum terdengar kabar berikutnya.
Sinetron berbiaya produksi sekitar Rp 800 juta ini, dibuat untuk 52 episode, diperkuat artis Yati Octavia, Minati Atmanegara, Murti Sari Dewi, Devi Permatasari, Advent Bangun, dll. Tak hanya TPI dan ANteve. Terakhir, terbetik kabar, PT Bola Dunia Film (kabarnya bersama PT Menara Gading Citra Perkasa) siap memproduksi lanjutan serial Mahkota Mayangkara dengan episode Mahkota Milwatikta (MW) karya S Tijab, untuk tayangan di RCTI.
Belum jelas (waktu itu), alasan mengapa lanjutan MM malah dilarikan ke televisi swasta lain, bukan TPI. �Khan kontrak MM sudah habis,� ujar Hadi Abdullah dari TPI. Sayang, ia tak merinci, mengapa tak dilanjutkan. Tapi, sebuah sumber menduga, pengalihan tersebut karena alasan nilai kontrak yang tak tercapai antara TPI dan produser.
MM dalam ratingnya pernah mengalahkan cerita film India, Ramayana, yang juga meledak di TPI. Menurut sumber itu, wajar kalau pihak produser menuntut nilai kontrak lebih memadai ketimbang sebelumnya. Tapi, pihak produser belum berhasil dimintai keterangan tentang hal ini.
Belum ada keterangan dari pihak RCTI (saat itu). Yang pasti, sinetron sage MW dimulai produsernya tanggal 5 Juli 1994 ini. Tak lagi ditangani sutradara Lilik Sudjio, melainkan oleh Abnar Ramli. Tapi, menurut penuturan Eddy Chaniago, pemeran Rakuti dalam Mahkota Wilwatikta, ada perubahan beberapa non-pemain dalam Mahkota Wilwatikta. �Tapi, saya belum tau jelas siapa saja,� katanya.
Agaknya, perang sinetron sage masih akan berlangsung dalam beberapa waktu yang saat itu akan datang, setidaknya didasarkan perkiraan Hadi Abdullah, kasubsie program cerita TPI. �Beberapa tahun lagi, trend sinetron jenis ini masih ada,� katanya meramalkan.
Sukses di radio dan film
Ketika maraknya sinetron jenis sage, dua nama penulis cerita semi sejarah ini mencuat ke permukaan Niki Kosasih dan S Tijab. Keduanya ditumbuhkan di Sanggar Prathivi, walaupun kemudian keluar. Niki terkenal dengan cerita Saur Sepuh dan S Tijab dengan Tutur Tinular. Kedua cerita itu sukses besar di radio-radio swasta. Serial Saur Sepuh (SS) misalnya, telah diputar sekitar 2.760 seri atau sekitar 46 episode. Cerita yang disiarkan lebih dari 300 radio swasta itu, direkam PT Harvana Record dengan sponsor PT Kalbe Farma.
Setelah itu, insan-insan film melirik. Maka ada sejumlah perusahaan film, meminta pihak pemegang hak cipta Saur Sepuh, PT Kalbe Farma, untuk menyangkut sandiwara radio tersebut ke layar film. Akhirnya, PT Kanta Indah Film dengan sutradara Imam Tantowi, mendapatkan order. Sekitar lima episode difilmkan dan sukses! SS (Satria Madangkara), SS-2 (Pessangrahan Keramat), SS-3 (Kembang Gunung Lawu), SS-4 (Titisan Darah Biru), dan SS-5 (Istana Atap Langit). Menurut Niki Kosasih, cerita itu dipikirkannya sekitar tahun 1980. Baru tahun 1983, setelah sempat ditolak seumlah produser, cerita itu direkam untuk sandiwara radio.
Saur Sepuh pada intinya, bertutur tentang sebuah kerajaan di tatar kulon (Jawa Barat) bernama Madangkara yang diperintah seorang raja adil dan bijaksana. �Saya gambarkan raja Madangkara bernama Brama dan itu sangat super. Super ganteng, super hebat, super sakti, super adil, super bijaksana. Karena saya semula ingin menciptakan tokoh super yang bisa mengalahkan ketokohan Superman, Flash Gordon, atau Batman. Maka, saya ciptakan tokoh fiktif Brama Kumbara,� ujar Niki Kosasih.
Lawan dari Brama yang didukung adiknya, Mantili, adik iparnya, Patih Gotawa, Panglima Ringkuh, dan wadya balad lainnya adalah orang-orang dari kerajaan Kuntala yang dulu pernah menjajah kerajaan Madangkara. Cerita yang pernah dengan �action�, peperangan, pertarungan ilmu kanuragan yang mungkin sebagai sangat disukai pendengar radio. Sementara Mahkota Mayangkara, bercerita bagaimana ketika Raden Wijaya mendirikan kerajaan Majapahit, kemudian konflik intern para penggawanya, hingga konflik yang memanas saat Majapahit diperintah anaknya, Prabu Jayanegara.
Dok. Pikiran Rakyat, 3 Juli 1994, dengan sedikit perubahan
Sumber : http://m.forum.detik.com/acara-televisi-jadul-t59526p233.html
Sinetron berbiaya ratusan juta hingga Rp 1 milyar ini, konon sangat menguntungkan pihak televisi dan produser. Dan keberhasilan ini sesungguhnya kelanjutan sukses cerita sage di radio swasta dan film layar lebar sebelumnya.
Pihak TPI sangat mengklaim sebagai pelempar trend (�trendsetter�) maraknya sinetron sage televisi. Televisi pendidikan (waktu itu) ini memang mengawalinya dengan memutar 52 episode Mahkota Mayangkara (MM) di tahun 1993. Cerita yang dibuat penulis skenario cerita radio S Tijab dengan sutradara Lilik Sudjio ini, mengambil latar belakang kerajaan Majapahit semasa Prabu Jayanegara, raja kedua negeri itu, yang memerintah tahun 1309-1328 M. Mahkota Mayangkara meledak. TPI pun lantas menayangkan Saur Sepuh (SS), cerita sage karya Niki Kosasih, pada pertengahan 1993/1994. Juga meledak dengan 26 episode (Kisah Darah Biru) dan 26 episode (Perjalanan Berdarah) bercerita tentang kerajaan Madangkara di tatar Sunda.
Entah berapa episode TPI diuntungkan, televisi swasta ini semakin ketagihan. Mulai medio 1994 ini diputarlah lanjutan Saur Sepuh dengan episode Satria Madangkara 26 episode, yang diproduksi PT Global Sarana Nusantara dengan produksi pelaksana PT Genta Nusa Dwipantara, yang disutradarai Abdul Kadir dan El Badrun.
Bahkan menurut Hadi Abdullah, kasubsie program cerita TPI, pihaknya telah mempersiapkan cerita karya lain S Tijab, Kaca Benggala dengan sutradara Imam Tantowi. Cerita ini berlatar belakang kerajaan Mataram islam, dibuat 52 episode.
Rupanya ledakan demi ledakan sinetron TPI sempat mengusik perhatian. ANteve yang sejak Mei 1993 lewat PT Menara Gading Citra Perkasa, mulai memproduksi sinetron sage berjudul Singgasana Brama Kumbara. Tentu saja ini cerita tentang Prabu Brama Kumbara dari sebuah kerajaan di tatar kulon Madangkara. Cerita karya Niki Kosasih dengan penulis skenario Imam Tantowi dan sutradara Denny HW hingga 1994, belum terdengar kabar berikutnya.
Sinetron berbiaya produksi sekitar Rp 800 juta ini, dibuat untuk 52 episode, diperkuat artis Yati Octavia, Minati Atmanegara, Murti Sari Dewi, Devi Permatasari, Advent Bangun, dll. Tak hanya TPI dan ANteve. Terakhir, terbetik kabar, PT Bola Dunia Film (kabarnya bersama PT Menara Gading Citra Perkasa) siap memproduksi lanjutan serial Mahkota Mayangkara dengan episode Mahkota Milwatikta (MW) karya S Tijab, untuk tayangan di RCTI.
Belum jelas (waktu itu), alasan mengapa lanjutan MM malah dilarikan ke televisi swasta lain, bukan TPI. �Khan kontrak MM sudah habis,� ujar Hadi Abdullah dari TPI. Sayang, ia tak merinci, mengapa tak dilanjutkan. Tapi, sebuah sumber menduga, pengalihan tersebut karena alasan nilai kontrak yang tak tercapai antara TPI dan produser.
MM dalam ratingnya pernah mengalahkan cerita film India, Ramayana, yang juga meledak di TPI. Menurut sumber itu, wajar kalau pihak produser menuntut nilai kontrak lebih memadai ketimbang sebelumnya. Tapi, pihak produser belum berhasil dimintai keterangan tentang hal ini.
Belum ada keterangan dari pihak RCTI (saat itu). Yang pasti, sinetron sage MW dimulai produsernya tanggal 5 Juli 1994 ini. Tak lagi ditangani sutradara Lilik Sudjio, melainkan oleh Abnar Ramli. Tapi, menurut penuturan Eddy Chaniago, pemeran Rakuti dalam Mahkota Wilwatikta, ada perubahan beberapa non-pemain dalam Mahkota Wilwatikta. �Tapi, saya belum tau jelas siapa saja,� katanya.
Agaknya, perang sinetron sage masih akan berlangsung dalam beberapa waktu yang saat itu akan datang, setidaknya didasarkan perkiraan Hadi Abdullah, kasubsie program cerita TPI. �Beberapa tahun lagi, trend sinetron jenis ini masih ada,� katanya meramalkan.
Sukses di radio dan film
Ketika maraknya sinetron jenis sage, dua nama penulis cerita semi sejarah ini mencuat ke permukaan Niki Kosasih dan S Tijab. Keduanya ditumbuhkan di Sanggar Prathivi, walaupun kemudian keluar. Niki terkenal dengan cerita Saur Sepuh dan S Tijab dengan Tutur Tinular. Kedua cerita itu sukses besar di radio-radio swasta. Serial Saur Sepuh (SS) misalnya, telah diputar sekitar 2.760 seri atau sekitar 46 episode. Cerita yang disiarkan lebih dari 300 radio swasta itu, direkam PT Harvana Record dengan sponsor PT Kalbe Farma.
Setelah itu, insan-insan film melirik. Maka ada sejumlah perusahaan film, meminta pihak pemegang hak cipta Saur Sepuh, PT Kalbe Farma, untuk menyangkut sandiwara radio tersebut ke layar film. Akhirnya, PT Kanta Indah Film dengan sutradara Imam Tantowi, mendapatkan order. Sekitar lima episode difilmkan dan sukses! SS (Satria Madangkara), SS-2 (Pessangrahan Keramat), SS-3 (Kembang Gunung Lawu), SS-4 (Titisan Darah Biru), dan SS-5 (Istana Atap Langit). Menurut Niki Kosasih, cerita itu dipikirkannya sekitar tahun 1980. Baru tahun 1983, setelah sempat ditolak seumlah produser, cerita itu direkam untuk sandiwara radio.
Saur Sepuh pada intinya, bertutur tentang sebuah kerajaan di tatar kulon (Jawa Barat) bernama Madangkara yang diperintah seorang raja adil dan bijaksana. �Saya gambarkan raja Madangkara bernama Brama dan itu sangat super. Super ganteng, super hebat, super sakti, super adil, super bijaksana. Karena saya semula ingin menciptakan tokoh super yang bisa mengalahkan ketokohan Superman, Flash Gordon, atau Batman. Maka, saya ciptakan tokoh fiktif Brama Kumbara,� ujar Niki Kosasih.
Lawan dari Brama yang didukung adiknya, Mantili, adik iparnya, Patih Gotawa, Panglima Ringkuh, dan wadya balad lainnya adalah orang-orang dari kerajaan Kuntala yang dulu pernah menjajah kerajaan Madangkara. Cerita yang pernah dengan �action�, peperangan, pertarungan ilmu kanuragan yang mungkin sebagai sangat disukai pendengar radio. Sementara Mahkota Mayangkara, bercerita bagaimana ketika Raden Wijaya mendirikan kerajaan Majapahit, kemudian konflik intern para penggawanya, hingga konflik yang memanas saat Majapahit diperintah anaknya, Prabu Jayanegara.
Dok. Pikiran Rakyat, 3 Juli 1994, dengan sedikit perubahan
Sumber : http://m.forum.detik.com/acara-televisi-jadul-t59526p233.html
Langganan:
Postingan (Atom)