Sabtu, 13 Mei 2017

Sinopsis Serial Roro Mendut Indosiar







Episode 1 (18 Januari 2005)


Badai dahsyat mengamuk mengharubirukan sebuah kapal layar. Nahkoda kapal tersebut, Pronocitro dan awak kapalnya berusaha keras menyelamatkan kapal dari keganasan ombak laut. Ternyata badai itu disebabkan Jin Jahat Penguasa Laut Cina Selatan yang ingin menenggelamkan kapal itu lantaran  Pronocitro tidak memberi sesaji padanya.
Walau Jaka Belek sudah meminta Pronocitro memberikan sesaji berupa kambing yang mereka bawa. Tetap saja Pronocitro menolak, bahkan nekat menyerang Jin Jahat. Terjadilah pertarungan seru antara mereka, namun Pronocitro kewalahan menghadapi Jin Jahat yang lebih kuat. Tiba-tiba dari angkasa terbang meluncur seorang anak lelaki usia 12 tahun, Bagus Kelana yang lalu menyerang Jin Jahat itu.
Jin Jahat Penguasa Laut Cina Selatan jadi kaget. Bagus Kelana menyerang Jin Jahat dengan ganas. Pronocitro menyaksikan dengan kagum dan tak menyangka jika anak kecil ternyata memiliki kesaktian hebat. Jin Jahat keteteran, akhirnya kabur melarikan diri terjun ke dalam air. Pronocitro berterima kasih pada Bagus Kelana.
Sementara itu di tempat lain, sebuah perahu layar bercadik menuju ke sebuah pantai. Di pantai itu seorang gadis dengan ceria melambaikan tangannya, namanya Mendut. Mendut gembira menyambut kedatangan perahu milik kakak ibunya, yang selalu ia panggil dengan Wo atau paman tua. Keceriaan gadis yang baru tumbuh besar itu disaksikan oleh ketiga pria berkuda yang berbusana gemperlap. Salah satunya adalah Adipati Pragolo yang masih muda dan tampan. Ia tertarik pada sikap Mendut yang lincah namun tidak acuh padanya.

Episode 2 (25 Januari 2005)

Permasalahan yang menimpa Pronocitro tampak belum usai juga sebab ketika menginap di sebuah penginapan, mendadak kamarnya dimasuki seseorang berpakaian hitam yang langsung membabatnya dengan pedang. Tapi Ponocitro yang sudah waspada, berhasil berkelit dan menendang si Pakaian Hitam sehingga terpental.
Pronocitro lalu membekuknya dan memaksa si Pakaian Hitam yang berprofesi pembunuh bayaran mengaku siapa penyuruhnya. Setelah diancam, akhirnya pembunuh bayaran itu menjelaskan bahwa penyuruhnya adalah Wong Agung Pathi. Pronocitro hanya tersenyum dan menyuru orang itu kembali ke Wong Agung Pathi bahwa ia siap menghadapi lawannya.
Di sisi lain, Adipati Progolo senang mendengar Ni Semongko sudah sampai pada tahap menjinakkan cara berpikir Roro Mendut yang begitu bebas. Adipat itu pun senang mendengar Roro Mendut yang akan dijadikan selirnya itu sangat cerdas.
Nyi Singobarong menyampaikan pada Pronocitro bahwa ayahnya menginginkan adanya ikatan abadi dalam persahabatannya dengan Sayid Abdullah yang sudah sama-sama bersetuju untuk menikahkan Putreri Khasanah dengan Pronocitro. Pemuda itupun berlayar ke Melaka bersama teman-temannya untuk mengunjungi tunangannya, Puteri Khasanah.
Akankah Roro Mendut menjadi selir Adipati Pragolo ? Bagaimana perjalanan Pronocitro dalam mengunjungi calon istrinya ? Anda ikuti saja kisah mereka dalam "Roro Mendut" episode ke-2 yang tayang pada hari Selasa (25/01), pukul 19.00 WIB di Indosiar.

Episede 3 ( 03 Februari 2005)

Pronocitro gelisah mendengar Pathi mau perang dengan Mataram. Sawung Ajit mengajak Pronocitro kembali ke Pekalongan. Tapi Pronocitro tidak mau karena tidak ingin meninggalkan Mendut yang kini menjadi selir Adipati Pragolo. Apalagi jika Pathi kalah, tentu Mendut akan diboyong ke Mataram.
Namun Panji Alam membawa kabar bahwa Siti Nurbaeti diculik oleh bajak laut Tengkorak Merah. Pronocitro berang dan mengajak teman-temannya membebaskan Siti Nurbaeti, Naka berlayarlah mereka mengejar perahu bajak laut Tengkorak Merah. Pronocitro berhasil mengejar perahu bajal laut itu di bandar labuh Pulau Hantu. Dengan kesaktiannya, Pronocitro berhasil mengalahkan para bajak laut dan membebaskan Siti Nurbaeti.
Pasukan Tumenggung Wiruogona yang sebenarnya telah berhasil mengalahkan pasukan Pathi, namun mereka menjadi porak poranda oleh pasukan Adipati Pragolo dan para Tumenggungnya. Tumenggung Wirugona menjadi berang. Celakanya salah satu Tumenggung Mataram yaitu Tumenggung Endranata diam-diam berkhianat dan memberitahu Adipati Pragolo bahwa ia akan membantu Pathi jika terjadi perang antara Pathi dan Mataram.
Pengkhianatannya tidak tanggung-tanggung sebab pada malam hari di perkemahan pasukan Mataram yang di bawah pimpinan langsung oleh Susuhunan Hanyokrokusumo, diam-diam Tumenggung Endranata menyelinap keluar menemui lima orang penyusup dari pihak musuh. Penyusup-penyusup yang dipimpin Brintik itu berencana menyerang Susuhunan Hanyokrokusumo yang berdiam di tenda paling mewah di perkemahan. Tetapi upaya mereka terhalang oleh Tumenggung Martoloyo.
Saksikanlah episode ke-3 sinetron "Roro Mendut" yang tayang pada hari Selasa (01/02), pukul 19.00 WIB di Indosiar.

Episode 4

Pertempuran pasukan Pathi dengan pasukan Mataram berlangsung dengan dahsyat. Korban banyak berjatuhan. Adipati Pragolo gugur dalam pertempuran itu. Susuhunan Hanyokrokusumo memerintahkan Tumenggung Wiroguno untuk terus menyerang ke ibu kota Pathi dan memboyong kekayaan Pathi ke Mataram.
Permaisuri Adipati Pragolo minta Tumenggung Mangunjaya untuk menyelamatkan putra mahkota Pathi, Raden Rangga yang berumur 8 tahun itu, kalau Pathi kalah perang dengan Mataram.
Roro Mendut murung mendengar Adipati Pragolo gugur. Padahal hal pertama kali bertemu, ia tak peduli pada sang Adipati, tapi di saat sang Adipati pergi ke medan perang, ia mulai tertarik dan mencintai Adipati tersebut.
Pasukan Mataram mulai bergerak memasuki kota Pathi. Penjaga gerbang menutup pintu kedaton. Pasukan meriam pun melepaskan tembakan. Tembok kedaton pun jebol. Tumenggung Wiroguna memerintahkan pasukannya terus bergerak. Dalam waktu singkat benteng kedaton jatuh ke tangan pasukan Mataram. Maka Kadipaten Pathi pun jatuh di bawah kekuasaan Mataram.
Tumenggung Wiroguna memboyong Garwo Padmi, Roro Mendut dan para selir Adipati Pragolo ke Mataram ...

Episode 5

Kemuning Putih menceritakan pada Pronocitro bahwa negerinya, Pulau Jambuna yang kaya dengan emas telah dijajah bangsa Portugis. Malapetaka itu terjadi ketika ia menolong seorang pemuda kulit putih yang berambut jagung yang terdampar di Jambuna. Pemuda kulit putih yang bernama Manuel Alvarez berhasil merayu Kemuning Putih jatuh cinta padanya padahal ayah dan semua tetua pulau Jambuna tidak setuju.
Ternyata keserakahan Alvarez terbukti karena ia kabur setelah dengan licik mengorek semua rahasia dari Kemuning Putih tentang tambang emas, tentang cara masuk dan keluar dari pulau. Pada mulanya Alvarez mengajak Kemuning kabur namun Kemuning menolak karena tahu bahwa tidak satupun orang boleh meninggalkan Jambuna. Alvarez benar-benar kejam karena sebelum kabur, ia sempat membunuh Swasta yang hendak mencegah Kemuning.
Pronocitro mengatakan pada Kemuning Putih bahwa ia ingin merebut kembali Pulau Jambuna dari tangan Alvarez dan bangsa Portugis. Tentu saja Kemuning Putih gembira dan menyambut uluran bantuan Pronocitro. Kemuning Putih lalu mengarahkan Pronocitro untuk mengarahkan kapalnya berlayar ke arah timur menuju ke pelangi, pintu masuk ke pulau Jambuna ....

Episode 7 (02 Maret 2005)

Pronocitro semakin waspada saat memasuki ruang bawah tanah yang tampak sepi. Instingnya merasakan kalau di gua itu ada marabahaya yang siap mengancam dirinya. Firasatnya benar karena tiba-tiba ia diserang enam lelaki bersenjata. Pertempuran pun terjadi. Ia sangat heran menyaksikan lawan-lawannya yang kebal dan tidak bisa mati.
Saat keherannya memuncak, sebuah serangan balik membuat Pronocitro tak berdaya. Di saat itulah Balun muncul dan memerintahkan anak buahnya mengikat Pronocitro yang dituduh memasuki pulau tanpa izin. Sementara itu, Ntar Untir dan Daeng Kosim kebingungan mencari Pronocitro yang belum juga kembali.
Pronocitro yang terikat kedua tangannya takjub menyaksikan adegan yang mengherankan. Di depan matanya, Balun dan anak buahnya yang sedang mengeluarkan ajian ilmu nampak menjerit seperti orang kesakitan. Seluruh tubuh mereka berubah menyeramkan dan menjadi mayat-mayat hidup.
Tidak bedanya Pronocitro, Salim juga memasuki ruang lainnya yang merupakan bagian ruang bawah tanah tersebut. Dia menemukan seorang lelaki tua bernama Tamir yang diikat rantai. Salim segera membuka ikatan rantainya. Ternyata Tamir telah bertahun-tahun dirantai di tempat itu. Iapun bercerita kalau Balun adalah seorang wakil negeri Nusa Gaharu yang merebit kekuasaan dan membunuh Raja Niti.
Saksikanlah episode ke-7 serial sinetron "Roro Mendut" yang tayang pada hari Rabu (02/03), pukul 22.00 WIB di Indosiar.

Episode 8

Ni Semongko kaget lari ke halaman menyuruh Roro Mendut turun, kita ini di negeri orang. Mendut menjawab tanpa memelankan kudanya. Apa ada larangan selir tawanan naik kuda ? Ketika itu dari gerbang samping muncul Nyai Ajeng dan Ni Kuweni berjalan menuju gandok tempat Roro Mendut. Betapa kagetnya wanita paro baya itu, ketika hampir saja tertabrak kuda yang dikendarai Mendut.
Nyai Ajeng benar-benar marah, tapi mendadak dia hanya bisa melongo melihat yang diatas kuda itu Roro Mendut. Roro Mendut menghentikan kudanya dan melompat turun disamping Ni Samongko. Gendok Duku mengambil tali kuda dan membawanya pergi. Ni Samongko membisiki Roro Mendut supaya menunduk, menghormati wanita itu, karena dia Garwo Padmi Tumenggung Wiroguno, Ni Samongko buru-buru mengacungkan sembah pada Nyai Ajeng.
Roro Mendut juga melakukan hal yang sama. Nyai Ajeng menatap Roro Mendut dan bertanya. Kamu bisa menari ? Yang ditanya Roro Mendut. Tapi yang segera menjawab Ni Samongko. Maaf bendoro asuhan hamba ini tidak bisa menari, karena baru beberapa saat tinggal di Gandok Kadipaten. Mendut cepat menyambar. Bohong. Pengasuh hamba ini bohong. Saya bisa menari Nyai Ajeng, tapi dengan syarat. Nyai Ajeng heran dan bertanya apa?
Maka Mendut pun menjawab. Sesudah puas melihat-lihat kutaraja Mataram ini, saya minta dipulangkan kerumah Ibu saya di Teluk Cikai. Nyai Ajeng heran mendengar permintaan Mendut. Ia lalu berkata tidak pernah ada calon isteri Tumenggung mengajukan syarat. Mendut cepat menukas. Siapa bilang saya calon isteri Wiroguno. Tentu saja Nyai Ageng terkesiap mendengar kekurang ajaran Mendut.
Demikian pun Ni Samongko dan Ni Kuweni. Dengan tajam Nyai Ajeng berkata. Pedang dan Meriam Mataram telah meluluh lantakkan Pathi, kamu harus menurut pada sang penakluk. Tapi Mendut dengan ketus mengatakan dirinya bukan Adipati Pragolo, jadi tidak ada alasan baginya harus manut pada siapapun. Nyai Ajeng kesal, langsung meninggalkan Mendut. Tapi Tumenggung Wiroguno malah tertawa terbahak-bahak mendengar syarat yang diajukan Roro Mendut. Ia makin ingin melihat gadis menari.

Daeng Kosim Salim, Ntir Unir dan Bolu sedang berjalan-jalan basar Semarang. Ketika Daeng Kosim dan Salim sedang membeli legen, Jagaraja mendekat menepuk bahu Daeng Kosim seperti kena sihir Daeng Kosim dan Salim mengikuti Jagaraja pergi. Bolu kaget melihat Daeng Kosim dan Salim sudah tidak ada di tempat tukang legen. Keduanya segera mengejar ke arah Daeng Kosim dan Salim pergi. Bolu dan Ntir Untir berteriak-teriak memanggil Salim.

Salim dan Daeng Kosim terus mengikuti Jagaraga yang berjalan dengan cepat. Bolu dan Ntir Utir berteriak memanggil, tetapi yang dipanggil diam tak menjawab. Malah ketika keduanya mendekat, mereka dihajar oleh Salim dan Daeng Kosim. Bolu dan Ntir Untir melawan, tapi keduanya bukanlah tandingan Daeng Kosim dan Salim. Pronocitro kaget mendengar Bolu dan Ntir Untir melaporkan Daeng Kosim dan Salim seperti orang hilang ingatan menghajar mereka.

Episode 9

Pronocitro sama sekali tidak mau membiarkan kapal layarnya dibawa kabur Jagaraga. Dengan menumpang kapal Kyai Badri, Pronocitro bersama Jin Hijau mengejar kapal tersebut. Berkat pengalaman Jin Hijau, kapal Pronocitro yang dicuri itu berhasil dikejar. Pronocitro dan para anak buahnya melompat ke kapal dan bertarung dengan Jagaraga, Jarot dan Galar.
Pertarungan merebut kembali kapal Pronocitro itu berlangsung seru. Sawung Alit berhasil membebaskan Bolu dan Ntir Untir yang diikat di tiang utama kapal. Pronocitro minta tolong pada Kyai Mukhtar untuk membebaskan Salim dan Daeng Kosim dari sihir Gendam Jagaraga. Akhirnya Pronocitro dan Sawung Alit berhasil membunuh Jagaraga. Pronocitro pun memperoleh kembali kapalnya.
Tidak lama kemudian kapal Pronocitro dan kapal Kyai Badri melaju beririingan di laut. Di tengah geladak, Pronocitro berdiri mematung seperti melamun. Ketika Ntir Untir bertanya, Pronocitro menceritakan tentang mimpinya. Rupanya Pronocitro bermimpi tentang Roro Mendut yang dikejar-kejar pria tanpa wajah yang menginginkannya menjadi istri pria tanpa wajah itu. Ntir Untir menyarankan Pronocitro agar menuju ke Mataram karena siapa tahu akan berjumpa Roro Mendut di sana.

Source : www.indosiar.com





Tidak ada komentar:

Posting Komentar